Selamat Membaca

Anda disini Home

Euthanasia

Euthanasia Pesatnya perkembangan teknologi di era sekarang khususnya di bidang kedokteran memiliki sisi positif dan negatif. Melalui pengetahuan dan teknologi kedokteran yang sangat maju, diagnose suatu penyakit dapat lebih sempurna untuk dilakukan. Pengobatan penyakit pun dapat berlangsung secara lebih efektif. Dengan peralatan kedokteran yang modern, rasa sakit seorang penderita dapat diperingan. Hidup seorang pasien pun dapat diperpanjang untuk sesuatu jangka waktu tertentu, dengan memasang sebuah “respirator“. Bahkan perhitungan saat kematian penderita penyakit tertentu, dapat dilakukan secara lebih tepat. Menyinggung masalah kematian, menurut cara terjadinya, maka ilmu pengetahuan membedakannya ke dalam tiga jenis kematian, yaitu: Orthothanasia, yaitu kematian yang terjadi karena proses alamiah. Dysthanasia, yaitu suatu kematian yang terjadi secara tidak wajar. Euthanasia, yaitu suatu kematian yang terjadi dengan pertolongan atau tidak dengan pertolongan dokter.[i] Yang menjadi persoalan ialah jenis kematian yang ketiga, yaitu kematian dalam kategori euthanasia atau biasa disebut juga mercy killing. Euthanasia biasa didefinisikan sebagai a good death atau mati dengan tenang. Hal ini dapat terjadi karena dengan pertolongan dokter atas permintaan dari pasien ataupun keluarganya, karena penderitaan yang sangat hebat dan tiada akhir, atau tindakan membiarkan saja oleh dokter kepada pasien yang sedang sakit tanpa menentu tersebut, tanpa memberikan pertolongan pengobatan seperlunya. Berikut ini akan [...]

By | November 23rd, 2013|Makalah|0 Comments

Pramoedya Ananta Toer

A. Selayang Pandang Perjalanan Hidup Pramoedya Pramoedya Ananta Toer Pramoedya Ananta Toer, anak sulung bapak Mastoer dan Ibu Oemi Saidah. Ayahnya yang lahir pada 5 Januari 1896[i] berasal dari kalangan yang dekat dengan agama Islam, seperti misalnya jelas dari nama orang tuanya, Imam Badjoeri dan Sabariyah. Ayah Mastoer menjadi naib di sebuah desa di Kediri: mula-mula di Plosoklaten, Pare, kemudian di Ngadiluwih.[ii] Sedangkan ibunya adalah anak penghulu Rembang yang lahir pada tahun 1907 [iii] dari selirnya, setelah melahirkan anak, selirnya itu diceraikan dan diusir dari kediaman penghulu. Anak selir itu bernama, Oemi Saidah, diasuh dalam keluarga Haji Ibrahim dan Hazizah. Saidah lulus HIS pada 1922, namun tidak mendapat izin melanjutkan studi ke Van Deventersscholl (sekolah kerajinan untuk gadis) di Semarang seperti yang diharapkannya, sebab sudah bertunangan dengan guru Toer yang tidak bersedia menunda perkawinan pak Toer yang umurnya baru 15 tahun.[iv] Pramoedya Ananta Toer lahir di Blora, jawa tengah 6 Februari 1925[v]. Pram begitu mencintai ibunya, menurut Pram ibunya dianggap sebagai “wanita satu-satunya di dunia ini yang kucintai dengan tulus, dikemudian hari menjadi ukuran Pram dalam menilai setiap wanita’ dan yang tidak kalah penting Pram juga mencintai neneknya, ibu kandung ibunya. Maka tidak heran jika banyak sekali dalam [...]

By | November 22nd, 2013|Tokoh|0 Comments

Hassan Hanafi: Kehidupan Intelektual Dan Karyanya

Hassan Hanafi Untuk mengenal lebih jauh pemikiran seorang tokoh dalam hal ini Hassan Hanafi, maka salah satu hal yang barangkali penting untuk dikaji adalah kondisi dan lingkungan di mana sang tokoh dibesarkan. Tinjauan terhadap latar belakang pemikiran dan metodologi pemikiran, sangatlah penting. Pentingnya akan hal ini, karena ada keyakinan bahwa munculnya intelektual tidak bisa dinafikan dengan pola interaksi bersama lingkungannya.[i]   Kondisi dan lingkungan itulah pada umumnya menjadi latar belakang lahirnya frame gagasan dari seseorang Ibnu Khaldun mengenai hal ini lewat karya monumentalnya al-Muqaddimah memberikan ungkapan “al-Rajul Ibnu Biatihi” yang bisa diartikan bahwa seseorang adalah anak zaman lingkungannya (miliu).[ii] Tesis Ibnu Khaldun di atas, adalah tepat bila dijadikan pijakan untuk membahas, dan mengetahui serta mengetengahkan sosok Hasan Hanafi.[iii]   A. Latarbelakang Kehidupan dan Intelektual Hassan Hanafi Hassan Hanafi –untuk berikutnya ditulis Hanafi- dilahirkan di kota Kairo, Februari 1935 M.[iv] Keluarganya berasal dari Bani Suwayf, sebuah provinsi yang berada di pedalaman Mesir, kemudian berurban ke Kairo, ibu kota Mesir.[v] Mereka mempunyai darah keturunan Maroko.[vi] Kakeknya berasal dari Maroko, sementara neneknya dari kabilah bani Mur yang di antaranya, menurunkan bani Gamal ‘Abd Al-Nasser, Presiden Mesir kedua. Kakeknya –setelah menikahi neneknya- memutuskan untuk menetap di Mesir. Ketika pulang dari pelajaran menunaikan [...]

By | November 22nd, 2013|Tokoh|0 Comments

Mite Camus (Albert Camus)

Oleh: Muhammad Al-Fayyadl Albert Camus Di peringatan keseratus hari lahirnya, Camus telah menjadi sebuah mite; begitu banyak dimensi yang ditangkap generasi hari ini tentang warisan literer dan politisnya. Di Prancis, Camus diapropriasi oleh kaum kanan maupun kaum kiri. Pada Camus, kaum kanan melihat penolakannya terhadap totalitarianisme sebagai justifikasi bagi tatanan “kebebasan” hari ini, lengkap dengan aparatus Hak Asasi Manusia; sebaliknya bagi kaum kiri, Camus adalah simbol pemberontakan dan non-konformisme. Komentar dari Georges W. Bush itu mungkin terdengar olok-olok: ia menyukai salah satu adegan dalam roman L’Étranger, ketika si tokoh membunuh seorang Arab, dan memujinya sebagai “bacaan yang singkat dan menarik”. Sebuah adegan yang dikritik Edward Said sebagai simptom “kolonial” dalam kolong bawah sadar Camus. Nicholas Sarkozy, sekutu Bush, saat menjabat Presiden Prancis, mengadakan jamuan makan untuk menghormati Albert Camus, sambil bercanda: berkat Camus, tiap kali dia pergi ke Aljazair, ia berharap “tidak dilahirkan di Afrika Utara”. Pemandangan yang mirip: Camus dipandang hari ini oleh nouveaux philosophes, para “filsuf baru”—yang dicibir di Prancis berdagang ide-ide filsafat demi popularitas di media—dari Bernard-Henry Lévy sampai André Compte-Sponville sebagai “suara moral abad ke-21”; bagi Compte-Sponville, Mite Sisyphus karangan Camus “lebih bernilai daripada Kritik Rasio Murni Kant”. Lévy menulis di tajuk di edisi [...]

By | November 17th, 2013|Tokoh|1 Comment

Nurcholish Madjid: Biografi Dan Perjalanan Intelektual

Nurcholish Madjid adalah salah satu tokoh kenamaan di Indonesia yang memiliki visi modernitas dalam Islam. Ruang diskusi Islamnya bermuara pada 3 hal utama yakni: ke-Islaman, kemodernan dan ke-Indonesiaan. Fokus pemikiran Nurcholish Madjid pada diskursus Islam dan Modernitas bukannya tanpa alasan. Meskipun sering mengutip pernyataan sosiolog Robert. N Bellah bahwa Islam memiliki kelenturan luar biasa (compatible) dengan modernitas, dan bahwa hal-hal ideal di era modern Barat sekarang secara teknis sudah terdapat pada zaman Islam salaf (klasik), namun realitas kekinian yang berkembang di dunia Muslim, di mana proses modernisasi banyak menemui hambatan jelas menggelitik pikiran Nurcholish Madjid bahwa ada yang keliru dalam proses modernisasi di dunia Muslim. Merunut semua peta pemikiran yang dimiliki oleh Nurcholish Madjid, pembahasan pada tulisan ini mengarah kepada penjelasan beberapa aspek penting. Pembahasan pertama mengarah kepada penjabaran tentang Riwayat Hidup dan Pendidikan Nurcholish Madjid. Selanjutnya, pembahasan diarahkan untuk mengupas tentang Aktivitas Intelektual dan Karya-karya Nurcholih Madjid. Arus Utama Pemikiran Nurcholish Madjid menjadi pembahasan lanjutan untuk melihat ciri khusus keberadaannya.Terakhir, pembahasan pada tulisan ini diarahkan untuk menjelaskan detik Akhir Hayat Nurcholish Madjid. A. Riwayat Hidup dan Pendidikannya Nurcholish Madjid Nurcholish Madjid atau yang biasa dipanggil Cak Nur (Sapaan akrab Nurcholish Madjid) lahir di Jombang, Jawa Timur, 17 [...]

By | October 10th, 2013|Tokoh|0 Comments

Sejarah Paham Dualisme

A. Dualisme: Definisi dan Kelahirannya Dalam diskursus filsafat, paham dualisme dianggap suatu varian dari paham idealisme. Dualisme adalah konsep filsafat yang menyatakan adanya dua substansi yang mendasari dunia. Dalam pandangan tentang hubungan antara jiwa dan raga, dualisme mengklaim bahwa fenomena mental adalah entitas non-fisik. Dalam sejarahnya, kendati bentuk dari paham dualisme ini, dalam konteks kefilsafatan, telah ada sejak zaman Plato (427-347 SM), namun istilah dualisme sendiri baru secara umum digunakan sejak Thomas Hyde memperkenalkan istilah ini pada sekitar tahun 1700 untuk menunjuk kepada konflik antara baik dan jahat, yakni antara Omzard dan Ahriman, dalam Zoroastrianisme, doktrin masyarakat Iran kuno yang secara penuh terbentuk pada abad ke-7 SM.[i] Doktrin dualisme ini secara khusus meresap ke dalam pemikiran masyarakat Yunani melalui orang-orang Persia, dan ajaran tersebut terutama dikenal lebih sebagai hal yang bersifat teologis daripada hal yang dapat dipahami secara filosofis, di mana pertentangan antara Omzard (Penguasa Kebajikan; disebut juga sebagai Ahura Mazda) dan Ahriman (Penguasa Kejahatan) ini dipercaya mengejawantah dan mendasari kejadian-kejadian di alam semesta yang merupakan medan pertempuran dari kedua roh besar itu.[ii] Adalah Christian Wolff (1679-1754), seorang filosof monis, yang kemudian menerapkan istilah tersebut secara resmi untuk menunjukkan oposisi metafisis antara pikiran dan materi. Istilah dualisme semenjak itu menjadi [...]

By | October 4th, 2013|Artikel|2 Comments

Kode Etik Profesi Hakim Dalam Islam

Pemahaman terhadap eksistensi kode etik profesi hakim dalam wacana pemikiran hukum Islam adalah sistem etika Islam yang akan menjadi landasan berfikir untuk melihat nilai-nilai yang ada dalam kode etik profesi hakim. Etika dalam Islam disebut dengan akhlak. Akhlak berasal dari bahasa arab yang artinya perangai, tabiat, rasa malu dan adat kebiasaan atau dalam pengertian sehari-hari disebut budi pekerti, kesusilaan atau sopan santun. Dengan demikian ahklak merupakan gambaran bentuk lahir manusia.[i] Ahmad Amin memberikan definsi akhlak adalah suatu ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang harusnya dilakukan oleh sebagian manusia kepada manusia lainnya, menyatakan apa yang harus dituju oleh manusia dalam hal perbuatan mereka dan menunjukkan jalan apa yang harus diperbuat.[ii] Sedangkan menurut A. Mustofa akhlak dalam Islam (akhlak Islam) adalah merupakan sistem moral atau akhlak yang berdasarkan Islam, yakni bertitik tolak dari akidah yang diwahyukan Allah pada Nabi atau Rasul-Nya yang kemudian disampaikan pada umatnya.[iii] Akidah tersebut diwujudkan menjadi tabiat atau sifat seseorang, yakni telah biasanya dalam jiwa seseorang yang benar-benar telah melekat sifat-sifat yang melahirkan perbuatan-perbuatan dengan mudah dan spontan tanpa dipikirkan. Perbuatan tersebut terkadang berbentuk baik dan terkadang juga berbentuk buruk.             Dengan demikian pada tahap pertama merupakan hasil pemikiran atau pertimbangan tetapi lama-lama menjadi [...]

By | September 28th, 2013|Artikel|0 Comments

Hak Dan Kewajiban Suami Isteri Dalam Islam

Sebelum membahas secara panjang lebar tentang hak dan kewajiban suami isteri dalam keluarga, ada baiknya penulis terlebih dahulu menjelaskan pengertian seperlunya terkait dengan hak dan kewajiban.   A. Pengertian Hak dan Kewajiban Pengertian dan Macam-macam Hak Dalam bahasa latin untuk menyebut hak yaitu dengan ius, sementara dalam istilah Belanda digunakan istilah recht. Bahasa Perancis menggunakan istilah droit untuk menunjuk makna hak. Dalam bahasa Inggris digunakan istilah law untuk menunjuk makna hak. Secara istilah pengertian hak adalah kekuasaan/wewenang yang dimiliki seseorang untuk mendapatkan atau berbuat sesuatu.[i] Sementara menurut C.S.T Cansil hak adalah izin atau kekuasaan yang diberikan oleh hukum kepada seseorang.[ii] Menurut van Apeldoorn hak adalah hukum yang dihubungkan dengan seseorang manusia atau subyek hukum tertentu, dengan demikian menjelma menjadi suatu kekuasaan.[iii] Dalam pengertian ini, C.S.T. Cansil membagi hak ke dalam hak mutlak (hak absolut) dan hak relative (hak nisbi).[iv] Hak Mutlak (hak absolut) Hak mutlak adalah hak yang memberikan wewenang kepada seseorang untuk melakukan suatu perbuatan, hak mana bisa dipertahankan kepada siapapun juga, dan sebaliknya setiap orang harus menghormati hak tersebut.[v] Sementara itu macam-macam hak mutlak dibagi ke dalam tiga golongan:[vi] Hak Asasi Manusia Hak Publik Mutlak Hak Keperdataan Sedangkan macam-macam hak keperdataan yaitu antara lain sebagai berikut:[vii] Hak Marital[viii] [...]

By | September 28th, 2013|Artikel|0 Comments

Akar Dan Tipologi Pemikiran Tentang Islam Dan Negara

Wacana tentang makna, penafsiran dan fungsi pancasila telah menjadi perdebatan sepanjang sejarah perpolitikan Indonesia, setidaknya sejak bangsa ini merdeka, perdebatan ini selalu menjadi aktual di kalangan akademisi dan politisi Indonesia sampai saat ini. Hal ini juga sering terjadi dalam wacana politik Indonesia di penghujung tahun 1990-an yang juga sibuk memperdebatkan ideologi dan peristiwa-peristiwa politik yang pernah terjadi dalam sejarah bangsa ini, di antaranya mengenai hubungan Islam dan negara, peran ABRI dalam politik, dan bentuk demokrasi yang sesuai dengan negara ini.[i] Dalam tulisan ini akan menitikberatkan pada masalah yang pertama yaitu mengenai hubungan Islam dan negara. Untuk memperjelas tahap-tahap perjuangan umat Islam Indonesia dalam merespon perdebatan Islam dan negara. M. Rusli Karim membagi menjadi empat tahap. Tahap pertama, 1912 hinggga proklamasi kemerdekaan, tahap kedua 1945-1955, tahap ketiga, 1955-1965 dan tahap keempat 1965 sampai sekarang.[ii] Akan tetapi dalam tulisan ini akan memfokuskan asal-usul lahirnya perdebatan Islam dan negara sepanjang sejarah perpolitikkan Indonesia secara global. Perdebatan ini mulai aktual sejak dibentuknya Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) sebagai upaya persiapan kemerdekaan yang diharapkan,[iii] dan telah disetujui oleh pemerintahan Jepang. Hal ini juga dinyatakan dalam pidato Perdana Menteri Kuniaki Koiso kepada Parlemen Jepang pada tahun 1944 yang menjanjikan kemerdekaan Indonesia dalam "waktu dekat".[iv] [...]

By | September 28th, 2013|Artikel|0 Comments