Pages Menu
TwitterFacebook
Categories Menu

Posted by in Makalah

Delik Penganiayaan Dan Pembunuhan Menurut Hukum Islam

A.     Pengertian Delik Penganiayaan dan Pembunuhan Menurut Hukum Pidana Islam

  1. Pengertian Delik Penganiayaan Menurut Hukum Pidana Islam

Pengertian istilah delik dalam hukum pidana positif sama dengan penggunaan istilah jarimah dalam hukum Islam. Jarimah mempunyai arti larangan-larangan syara’ yang diancam dengan hukuman had, qisas, atau ta’zir.[i] Larangan yang dimaksud adalah mengerjakan perbuatan yang dilarang atau meninggalkan perbuatan yang diperintahkan, karena perintah dan larangan tersebut datang dari syara’ maka perintah dan larangan tersebut hanya ditujukan kepada orang yang mukallaf.

Para fuqaha’ sering menggunakan kata jinayah untuk jarimah. Mereka mengartikan jinayah dengan suatu perbuatan yang dilarang oleh syara’ baik  perbuatan tersebut mengenai harta, jiwa dan lainnya. Selain itu terdapat beberapa fuqaha’ yang membatasi kata jarimah pada jarimah hudud dengan mengesampingkan perbedaan pemakaian kata jinayah dan jarimah, sehingga dapat dikatakan kedua istilah tersebut mempunyai makna yang sama.[ii]

 Untuk mengetahui suatu perbuatan itu dapat dipandang sebagai jarimah dan pelakunya dapat dikenai pertanggungjawaban pidana apabila telah terpenuhi beberapa unsur, yaitu:

1. Unsur formil, yaitu adanya ketentuan atau aturan yang menunjukkan larangan terhadap suatu perbuatan yang diancam hukuman.

2. Unsur materiil, yaitu adanya perbuatan yang melawan hukum baik itu perbuatan nyata-nyata berbuat atau sikap tidak berbuat

3. Unsur moril, yaitu unsur yang terdapat pada pelaku. Pelaku jarimah haruslah mukallaf, yaitu orang yang dapat dimintai pertanggungjawaban terhadap jarimah yang dilakukannya.[iii]

Sedangkan menurut as-Sayyid Sabiq, kata jinayat adalah bentuk jamak, adapun bentuk tunggalnya adalah jinayah yang diambil dari kata jana, yajni yang artinya memetik. Dikatakan: “Jana as-Samara” yang artinya ialah: bilamana ia mengambil buah dari pohonnya. Dan dikatakan pula: “Jana ‘Ala Qawmihi Jinayatan” yang artinya adalah: ia telah melakukan tindakan kriminalitas terhadap kaumnya, karena itu ia dipidana.[iv]

Para ahli fiqh Islam telah membuat terminologi khusus untuk mengkatagorikan tindakan-tindakan pidana, yaitu menjadi 2 (dua) macam:

Pertama : Jaraim al-Hudud, yaitu tindakan pidana yang bersanksikan hukum had

Kedua  :  Jaraim al-Qisas, yaitu tindakan pidana yang bersanksikan hukum qisas.

Yang kedua ini adalah merupakan tindakan kejahatan yang membuat jiwa atau bukan jiwa, menderita musibah dalam bentuk luka atau terpotong organ tubuh.[v]

Dalam hukum pidana Islam istilah penganiayaan tidak dipakai, yang ada dalam hukum pidana Islam adalah jarimah/jinayah terhadap selain jiwa. Abu Bakar Jabir al-jazairi menyebutkan bahwa jinayah terhadap tubuh bisa berupa jinayatul atraf, asy-syijjaj, dan al-jirah. Jinayatul atraf adalah perbuatan seseorang terhadap orang lain yang menyebabkan sakit atau cacat tubuh, contohnya; mencukil mata, mematahkan kaki, atau memotong tangan orang lain.[vi] Asy-syijjaj adalah pelukaan terhadap orang lain pada bagian kepala dan wajah[vii] sedangkan al-jirah adalah pelukaan terhadap tubuh orang lain pada selain kepala dan wajah.[viii]

     

  1. Pengertian Delik Pembunuhan Menurut Hukum Pidana Islam

Pembunuhan secara etimologi, merupakan bentuk masdar قتلا, dari fi’il madhi قتل   yang artinya membunuh.[ix] Adapun secara terminologi, sebagaimana dikemukakan oleh Wahbah az-Zuhaili, pembunuhan didefinisikan sebagai suatu perbuatan mematikan; atau perbuatan seseorang yang dapat menghancurkan bangunan kemanusiaan.[x] Sedangkan menurut Abdul Qadir ‘Audah, pembunuhan didefinisikan sebagai suatu tindakan seseorang untuk menghilangkan nyawa; menghilangkan ruh atau jiwa orang lain.[xi]

   Dalam hukum pidana Islam, pembunuhan termasuk ke dalam jaraim qisas (tindakan pidana yang bersanksikan hukum qisas), yaitu tindakan kejahatan yang membuat jiwa atau bukan jiwa menderita musibah dalam bentuk hilangnya nyawa, atau terpotong organ tubuhnya.[xii]

 

B.    Klasifikasi Delik Penganiayaan dan Pembunuhan Menurut Hukum Pidana Islam

1.      Klasifikasi Delik Penganiayaan Menurut Hukum Pidana Islam

 Para ulama membagi jinayah terhadap tubuh menjadi lima macam, yaitu :

  1. Ibanat al-Atraf, yaitu memotong anggota badan, termasuk di dalamnya pemotongan tangan, kaki, jari, hidung, gigi dan sebagainya
  2. Izhab ma’a al-Atraf, yaitu menghilangkan fungsi anggota badan (anggota badan itu tetap ada tapi tidak bisa berfungsi), misalnya membuat korban buta, tuli, bisu dan sebagainya
  3. Asy-Syaj, yaitu pelukaan terhadap kepala dan muka (secara khusus)
  4. Al-Jarh, yaitu pelukaan terhadap selain wajah dan kepala termasuk di dalamnya pelukaan yang sampai ke dalam perut atau rongga dada
  5. Pelukaan yang tidak termasuk ke dalam salah satu dari empat jenis pelukaan di atas.[xiii]

Sedangkan Abu Bakar al-Jazairi sebagaimana disebutkan dalam definisi penganiayaan, membagi jinayah terhadap tubuh menjadi 3 macam, yaitu :

  1. Jinayatul Atraf,
  2. Asy-Syijjaj, dan
  3. Al-Jirah,

Khusus pada asy-Syijjaj menurut ulama salaf ada 2 (dua) kelompok,[xiv] yaitu;

  1. Pelukaan terhadap kepala atau wajah yang telah ada ketetapan dari syari’at mengenai jumlah diyatnya, yang termasuk kelompok ini adalah;
  2. Al-Mudihah, yaitu pelukaan terhadap kepala atau wajah yang menampakkan tulang,
  3. Al-Hasyimah, yaitu pelukaan terhadap kepala atau wajah yang menyebabkan pecah atau patahnya tulang,
  4. Al-Munqilah, yaitu pelukaan terhadap kepala atau wajah yang menyebabkan berpindah atau bergesernya tulang dari tempat asalnya,
  5. Al-Ma’mumah, yaitu  pelukaan terhadap kepala atau wajah sampai pada kulit otak,
  6. Ad-Damigah, yaitu pelukaan terhadap kepala atau wajah sampai pada kulit otak dan memecahkannya, pelukaan ini lebih berat daripada Al-Ma’mumah.

Sedangkan kelompok yang ke dua adalah pelukaan terhadap kepala atau wajah yang belum ada penjelasan dari syari’at tentang diyatnya[xv], yaitu;

1)           Al-Harisah, yaitu pelukaan terhadap kepala atau wajah yang merobekkan sedikit kulit dan tidak mengaluarkan darah,

2)           Ad-Damiyah, yaitu pelukaan terhadap kepala atau wajah yang merobekkan kulit dan mengeluarkan/mengalirkan darah,

3)           Al-Badi’ah, yaitu pelukaan terhadap kepala atau wajah yang memutihkan tulang, artinya mematahkan tulang,

4)           Al-Mutalahimah, yaitu pelukaan terhadap kepala atau wajah yang meremukkan tulang, hal ini lebih berat daripada al-Badi’ah,

5)           As-Simhaq, yaitu pelukaan terhadap kepala atau wajah yang hampir mengenai tulang.     

Kemudian pada jenis al-jirah dibedakan pula menjadi;

1)     Jaifah, yaitu pelukaan yang sampai pada rongga perut,

2)     Pelukaan pada rongga dada, contohnya mematahkan tulang rusuk,

3)     Mematahkan lengan tangan atas, betis, atau lengan bawah.[xvi]  

 

2.      Klasifikasi Delik Pembunuhan Menurut Hukum Pidana Islam

Pada dasarnya delik pembunuhan terklasifikasi menjadi dua golongan, yaitu:

  1. Pembunuhan yang diharamkan; setiap pembunuhan karena ada unsur permusuhan dan penganiayaan
  2. Pembunuhan yang dibenarkan; setiap pembunuhan yang tidak dilatarbelakangi oleh permusuhan, misalnya pembunuhan yang dilakukan oleh algojo dalam melaksanakan hukuman qisas.[xvii]

Adapun secara spesifik mayoritas ulama berpendapat bahwa tindak pidana pembunuhan dibagi dalam tiga kelompok, yaitu:

  1. Pembunuhan sengaja (qatl al- ‘amd)

      Yaitu menyengaja suatu pembunuhan karena adanya permusuhan terhadap orang lain dengan menggunakan alat yang pada umumnya mematikan, melukai, atau benda-benda yang berat, secara langsung atau tidak langsung (sebagai akibat dari suatu perbuatan), seperti menggunakan besi, pedang, kayu besar, suntikan pada organ tubuh yang vital maupun tidak vital (paha dan pantat) yang jika terkena jarum menjadi bengkak dan sakit terus menerus sampai mati, atau dengan memotong jari-jari seseorang sehingga menjadi luka dan membawa pada kematian

  1. Pembunuhan menyerupai sengaja (qatl syibh al-‘amd)

      Yaitu menyengaja suatu perbuatan aniaya terhadap orang lain, dengan alat yang pada umumnya tidak mematikan, seperti memukul dengan batu kecil, tangan, cemeti, atau tongkat yang ringan, dan antara pukulan yang satu dengan yang lainnya tidak saling membantu, pukulannya bukan pada tempat yang vital (mematikan), yang dipukul bukan anak kecil atau orang yang lemah, cuacanya tidak terlalu panas/dingin yang dapat mempercepat kematian, sakitnya tidak berat dan menahun sehingga membawa pada kematian, jika tidak terjadi kematian, maka tidak dinamakan qatl al-‘amd, karena umumnya keadaan seperti itu dapat mematikan

  1. Pembunuhan kesalahan (qatl al-khata’)

      Yaitu pembunuhan yang terjadi dengan tanpa adanya maksud penganiayaan, baik dilihat dari perbuatan maupun orangnya. Misalnya seseorang melempari pohon atau binatang tetapi mengenai manusia (orang lain), kemudian mati.[xviii]

Sedangkan menurut as-Sayyid Sabiq, yang dimaksud pembunuhan sengaja adalah pembunuhan yang dilakukan oleh seseorang mukallaf kepada orang lain yang darahnya terlindungi, dengan memakai alat yang pada umumnya dapat menyebabkan mati.[xix] Sedangkan menurut Abdul Qodir ‘Audah, pembunuhan sengaja adalah perbuatan menghilangkan nyawa orang lain yang disertai dengan niat membunuh, artinya bahwa seseorang dapat dikatakan sebagai pembunuh jika orang itu mempunyai kesempurnaan untuk melakukan pembunuhan. Jika seseorang tidak bermaksud membunuh, semata-mata hanya menyengaja menyiksa, maka tidak dinamakan dengan pembunuhan sengaja, walaupun pada akhirnya orang itu mati. Hal ini sama dengan pukulan yang menyebabkan mati (masuk dalam katagori syibh ‘amd).[xx]

Mengenai perbuatan-perbuatan yang dapat dikatagorikan sebagai tindak pidana pembunuhan yaitu[xxi] :

  1. Pembunuhan dengan muhaddad, yaitu seperti alat yang tajam, melukai, dan menusuk badan yang dapat mencabik-cabik anggota badan.
  2. Pembunuhan dengan musaqqal, yaitu alat yang tidak tajam, seperti tongkat dan batu. Mengenai alat ini fuqaha berbeda pendapat apakah termasuk pembunuhan sengaja yang mewajibkan qisas atau syibh ‘amd yang sengaja mewajibkan diyat.
  3. Pembunuhan secara langsung, yaitu pelaku melakukan suatu perbuatan yang menyebabkan matinya orang lain secara langsung (tanpa perantaraan), seperti menyembelih dengan pisau, menembak dengan pistol, dan lain-lain.
  4. Pembunuhan secara tidak langsung (dengan melakukan sebab-sebab yang dapat mematikan). Artinya dengan melakukan suatu perbuatan yang pada hakikatnya (zatnya) tidak mematikan tetapi dapat menjadikan perantara atau sebab kematian.

Adapun sebab-sebab yang mematikan itu ada tiga macam,[xxii] yaitu :

1)     Sebab Hissiy (perasaan/psikis) seperti paksaan untuk membunuh.

2)     Sebab Syar’iy, seperti persaksian palsu yang membuat terdakwa terbunuh, keputusan hakim untuk membuat seseorang yang diadilinya dengan kebohongan atau kelicikan (bukan karena  keadilan) untuk menganiaya secara sengaja.

3)     Sebab ‘Urfiy, seperti menyuguhkan makanan beracun terhadap orang lain yang sedang makan atau menggali sumur dan menutupinya sehingga ada orang terperosok dan mati.

  1. Pembunuhan dengan cara menjatuhkan ke tempat yang membinasakan, seperti dengan melemparkan atau memasukkan ke kandang srigala, harimau, ular dan lain sebagainya.
  2. Pembunuhan dengan cara menenggelamkan dan membakar.
  3. Pembunuhan dengan cara mencekik.
  4. Pembunuhan dengan cara meninggalkan atau menahannya tanpa memberinya makanan dan minuman.
  5. Pembunuhan dengan cara menakut-nakuti atau mengintimidasi. Pembunuhan tidak hanya terjadi dengan suatu perbuatan fisik, karena terjadi juga melalui perbuatan ma’nawi yang berpengaruh pada psikis seseorang, seperti menakut-nakti, mengintimidasi dan lain sebagainya.

Dalam syari’at Islam, pembunuhan diatur di dalam al-Qur’an maupun dalam al-Hadis, yaitu :

Firman Allah swt. dalam al-Qur’an:

وماكان لمؤمن ان يقتل مؤمنا الاخطأ, ومن قتل مؤمناخطأ فتحريررقبة مؤمنة ودية مسلمة الى أهله إلا أن يصدقوا…[xxiii]

Juga firman Allah swt.:

 ومن يقتل مؤمنا متعمدا فجزاؤه جهنم خالدا فيها وغضب الله عليه ولعنه واعدله عذابا عظيما[xxiv]

 

Kemudian pada hadis Rasul yang berbunyi,    

لا يحل دم امرئ مسلم يشهد  أن لا إله إلا الله وأنى رسول الله إلا باحدى ثلا ث : الثيب الزانى والنفس بالنفس والتارك لدينه المفارق للجامعة اى المرتد عن دين الاسلام[xxv]

 

 

C.    Sanksi Delik Penganiayaan dan Pembunuhan Menurut Hukum Pidana Islam

Sanksi pidana dalam hukum Islam disebut dengan al-’Uqubah yang berasal dari kata عقب , yaitu sesuatu yang datang setelah yang lainnya, maksudnya adalah bahwa hukuman dapat dikenakan setelah adanya pelanggaran atas ketentuan hukum. ‘Uqubah dapat dikenakan pada setiap orang yang melakukan kejahatan yang dapat merugikan orang lain baik dilakukan oleh orang muslim atau yang lainnya.[xxvi] Hukuman merupakan suatu cara pembebanan pertanggungjawaban pidana guna memelihara ketertiban dan ketentraman masyarakat. Dengan kata lain hukuman dijadikan sebagai alat penegak untuk kepentingan masyarakat.[xxvii]

Dengan demikian hukuman yang baik adalah harus mampu mencegah dari perbuatan maksiat, baik mencegah sebelum terjadinya perbuatan pidana maupun untuk menjerakan pelaku setelah terjadinya jarimah tersebut. Dan besar kecilnya hukuman sangat tergantung pada kebutuhan kemaslahatan masyarakat, jika kemaslahatan masyarakat menghendaki diperberat maka hukuman dapat diperberat begitu pula sebaliknya.[xxviii]

 

  1. Sanksi Delik Penganiayaan

Sanksi-sanksi yang dikenakan terhadap orang yang melakukan tindak pidana terhadap tubuh menurut ketentuan hukum pidana Islam adalah sebagai berikut :

  1. Qisas

Qisas terhadap selain jiwa (penganiayaan) mempunyai syarat sebagai berikut[xxix]:

  1. Pelaku berakal
  2. Sudah mencapai umur balig[xxx]
  3. Motivasi kejahatan disengaja
  4.  Hendaknya darah orang yang dilukai sederajat dengan darah orang yang melukai.

Yang dimaksud dengan sederajat disini adalah hanya dalam hal kehambaan dan kekafiran. Oleh sebab itu maka tidak diqisas seorang merdeka yang melukai hamba sahaya atau memotong anggotanya. Dan tidak pula diqisas seorang muslim yang melukai kafir zimmi atau memotong anggotanya.

Apabila pelaku melakukan perbuatan pelukaan tersebut secara sengaja, dan korban tidak memiliki anak, serta korban dengan pelaku sama di dalam keislaman dan kemerdekaan, maka pelaku diqisas berdasarkan perbuatannya terhadap korban, misalnya dipotong anggota berdasarkan onggota yang terpotong, melukai serupa dengan anggota yang terluka.[xxxi] Kecuali jika korban menghendaki untuk pembayaran diyat atau memaafkan pelaku. Besarnya diyat disesuaikan dengan jenis dari perbuatan yang dilakukannya terhadap korban.

Syarat-syarat qisas dalam pelukaan:[xxxii]

  • Tidak adanya kebohongan di dalam pelaksanaan, maka apabila ada kebohongan maka tidak boleh diqisas,
  • Memungkinkan untuk dilakukan qisas, apabila qisas itu tidak mungkin dilakukan, maka diganti dengan diyat,
  • Anggota yang hendak dipotong serupa dengan yang terpotong, baik dalam nama atau bagian yang telah dilukai, maka tidak dipotong anggota kanan karena anggota kiri, tidak dipotong tangan karena memotong kaki, tidak dipotong jari-jari yang asli (sehat) karena memotong jari-jari tambahan,
  • Adanya kesamaan 2 (dua) anggota, maksudnya adalah dalam hal kesehatan dan kesempurnaan, maka tidak dipotong tangan yang sehat karena memotong tangan yang cacat dan tidak diqisas mata yang sehat karena melukai mata yang sudah buta,
  • Apabila pelukaan itu pada kepala atau wajah (asy-syijjaj), maka tidak dilaksanakan qisas, kecuali anggota itu tidak berakhir pada tulang, dan setiap pelukaan yang tidak memungkinkan untuk dilaksanakan qisas, maka tidak dilaksanakan qisas dalam pelukaan yang mengakibatkan patahnya tulang juga dalam jaifah, akan tetapi diwajibkan diyat atas hal tersebut.

Kemudian dalam hal tindakan menempeleng, seseorang diperbolehkan membalasnya sesuai dengan apa yang telah dilakukannya, hal ini sesuai firman Allah swt.,

… فمن اعتدى عليكم فاعتدوا عليه بمثل مااعتدىعليكم[xxxiii]

Dan Allah telah berfirman pula dalam ayat lain,

            وجزاء  سيئة سيئة مثلها[xxxiv]

  1. Diyat

Menurut as-Sayyid Sabiq, diyat adalah :

            المال الذى يجب بسبب الجناية, وتؤدى إلى المجنى عليه, أو وليه[xxxv]

Dalam hal penganiayaan jenis jinayatul atraf, pelaksanaan diyat dibagi menjadi dua, yaitu yang dikenakan sepenuhnya dan yang dikenakan hanya setengahnya saja, adapun diyat yang dikenakan sepenuhnya adalah dalam hal sebagai berikut[xxxvi] :

  1. Menghilangkan akal,
  2. Menghilangkan pendengaran dengan menghilangkan kedua telinga,
  3. Menghilangkan penglihatan dengan membutakan kedua belah mata,
  4. Menghilangkan suara dengan memotong lidah atau dua buah bibir,
  5. Menghilangkan penciuman dengan memotong hidung,
  6. Menghilangkan kemampuan bersenggama/jima’ dengan memotong zakar atau memecahkan dua buah pelir
  7. Menghilangkan kemampuan berdiri atau duduk dengan mematahkan tulang punggung.

Hal-hal tersebut berdasarkan hadis Nabi yang tertera dalam kitabnya ‘Amr ibn Hazm, bahwa Rasulullah saw. bersabda :

 وفي الأنف إذا أوعب جدعه الدية, وفى اللسان الدية, وفى الشفتين الدية, وفى البيضتين الدية,و فى الذكر الدية, وفى الصلب الدية, وفى العينين الدية, وفى الرجل الواحدة نصف الدية[xxxvii]

 

Sedangkan diyat yang dikenakan hanya setengahnya saja adalah dalam hal melukai[xxxviii] :

  1. Satu buah mata
  2. Satu daun telinga
  3. Satu buah kaki
  4. Satu buah bibir
  5. Satu buah pantat
  6. Satu buah alis
  7. Satu buah payudara wanita

Kemudian pelukaan yang mewajibkan diyat kurang dari setengahnya adalah memotong sebuah jari, yaitu diyatnya sepuluh ekor unta, berdasarkan hadis,

دية أصابع اليدين أوالرجلين سواء, عشر من الإبل لكل أصبع[xxxix]

Dan wajib dalam mematahkan gigi diyat sebanyak lima ekor unta, berdasarkan sabda Rasul dalam kitabnya Amr Ibn Hazm,

وفى السن خمس من الإبل[xl]

Sedangkan sanksi dalam hal al-jirah, sesuai dengan pembagiannya yaitu yang telah ada ketetapan syara’ dan juga yang belum adalah sebagai berikut[xli] :

  1. al-Mudhihah, diyatnya sebanyak lima ekor unta, berdasarkan hadis,

فى المواضح خمس خمس[xlii]

 

  1. al-Hasyimah, diyatnya sebanyak sepuluh ekor unta, berdasar hadis,

إن النبى صلى الله عليه السلام أوجب فى الهاشمة عشر من الإبل[xliii]

 

  1.  al-Munqilah, diyatnya sebanyak lima belas ekor unta, hal ini berdasar apa yang tertera dalam kitabnya Amr Ibnu Hazm yaitu

… والمنقلة خمس عشرة من الإبل[xliv]

  1.  al-Ma’mumah, diyatnya sebesar sepertiga diyat, seperti dalam kitabnya Amr Ibn Hazm,

… وفى المأمومة ثلث الدية[xlv]

  1.  ad-Damighah, hukum dari hal ini sama dengan al-Ma’mumah yaitu diyatnya sepertiga diyat.

Mengenai hukuman dari pelukaan yang bersifat al-jirah ditentukan bahwa:

  1. jaifah, diyatnya sepertiga diyat seperti dalam kitabnya Amr Ibnu Hazm,

… وفى الجائفة ثلث الدية[xlvi]

  1. Dalam hal mematahkan tulang rusuk diyatnya sebanyak satu ekor unta (ba’ir)
  2. Dalam hal mematahkan lengan tangan atas, bawah ataupun betis diyatnya sebanyak dua ekor unta (ba’ir)[xlvii].

Dan selain apa yang telah disebutkan di atas hukumnya diqiyaskan kepada yang lebih mudah yaitu al-Mudihah.

 

  1. Sanksi Delik Pembunuhan Menurut Hukum Pidana Islam

Ada tiga bentuk sanksi pidana pembunuhan sengaja menurut hukum pidana islam, yaitu pertama, sanksi asli (pokok), berupa hukuman qisas, kedua, sanksi pengganti, berupa diyat dan ta’zir, dan ketiga, sanksi penyerta/tambahan, berupa terhalang memperoleh waris dan wasiat.[xlviii]

  1. Sanksi Asli/Pokok

Sanksi pokok bagi pembunuhan sengaja yang telah dinaskan dalam al-Qur’an dan al-Hadis adalah qisas. Hukuman ini disepakati oleh para ulama. Bahkan ulama Hanafiyah berpendapat bahwa pelaku pembunuhan sengaja harus diqisas (tidak boleh diganti dengan harta), kecuali ada kerelaan dari kedua belah pihak. Ulama Syafi’iyah menambahkan bahwa di samping qisas, pelaku pembunuhan juga wajib membayar kifarah.[xlix]

Qisas diakui keberadaannya oleh al-Qur’an, as-Sunnah, Ijma’ ulama, demikian pula akal memandang bahwa disyari’atkannya qisas adalah demi keadilan dan kemaslahatan.[l] Hal ini ditegaskan al-Qur’an dalam sebuah ayat;

ولكم فى القصاص حيوة يآاولى الأ لباب لعلكم تتقون[li]

Adapun beberapa syarat yang diperlukan untuk dapat dilaksanakan qisas[lii], yaitu : 

  1. Syarat-syarat bagi pembunuh

Ada 3 syarat, yaitu :

  1. pembunuh adalah orang mukallaf (balig dan berakal), maka tidaklah diqisas apabila pelakunya adalah anak kecil atau orang gila, karena perbuatannya tidak dikenai taklif.[liii] Begitu juga dengan orang yang tidur/ayan, karena mereka tidak punya niat atau maksud yang sah.
  2. Bahwa pembunuh menyengaja perbuatannya.    

Dalam al-Hadis disebutkan,

من قتل عمدا فهو قود                                                         [liv]

  1. Pembunuh mempunyai kebebasan bukan dipaksa, artinya jika membunuhnya karena terpaksa, maka menurut Hanafiyah tidak diqisas, tetapi menurut Jumhur tetap diqisas walaupun dipaksa.
  2. Syarat-syarat bagi yang terbunuh (korban)

Juga ada 3, yaitu :

  1. Korban adalah orang yang dilindungi darahnya.[lv]  Adapun orang yang dipandang tidak dilindungi darahnya adalah kafir harbi, murtad, pezina muhsan, penganut zindiq dan pemberontak; jika orang muslim atau zimmy membunuh mereka, maka hukum qisas tidak berlaku.
  2. Bahwa korban bukan anak/cucu pembunuh (tidak ada hubungan bapak dan anak), tidak diqisas ayah/ibu, kakek/nenek yang membunuh anak/cucunya sampai derajat ke bawah, berdasarkan pada hadis;

لا يقاد الوالد بالوالد[lvi]

Juga hadis;

انت ومالك لأبيك[lvii]

  1. Adalah korban derajatnya sama dengan pembunuh dalam islam dan kemerdekaanya, pernyataan ini dikemukakan oleh Jumhur (selain Hanafiyah). Dengan ketentuan ini, maka tidak diqisas seorang islam yang membunuh orang kafir, orang merdeka yang membunuh budak.
  2. Syarat-syarat bagi perbuatannya

Hanafiyah mensyaratkan, untuk dapat dikenakan qisas, tindak pidana pembunuhan yang dimaksud harus tindak pidana langsung, bukan karena sebab tertentu. Jika tidak langsung maka hanya dikenakan hukuman membayar diyat. Sedangkan Jumhur tidak mensyaratkan itu, baik pembunuhan langsung atau karena sebab, pelakunya wajib dikenai qisas, karena keduanya berakibat sama.[lviii]

  1. Syarat-syarat bagi wali korban

Menurut Hanafiyah, wali korban yang berhak untuk mengqisas haruslah orang yang diketahui identitasnya. Jika tidak, maka tidak wajib diqisas. Karena tujuan dari diwajibkannya qisas adalah pengukuhan dari pemenuhan hak. Sedangkan pembunuhan hak dari orang yang tidak diketahui identitasnya akan mengalami kesulitan dalam pelaksanaannya.

Qisas wajib dikenakan bagi setiap pembunuh, kecuali jika dimaafkan oleh wali korban. Para ulama mazhab sepakat bahwa sanksi yang wajib bagi pelaku pembunuhan sengaja adalah qisas.[lix] Hal ini sesuai dengan firman Allah swt.

يآايهاالذين آمنوا كتب  عليكم  القصاص فى  القتلى الحر بالحر والعبد بالعبد  والأنثى  بالأنثى  فمن  عفى  له  من  أخيه  شئ  فاتباع  بالمعروف  وأدآء  اليه باحسان…[lx]

Dan sabda Rasul;

من قتل عمدا فهو قود[lxi]

Hanabilah berpendapat bahwa hukuman bagi pelaku pembunuhan tidak hanya qisas, tetapi wali korban mempunyai dua pilihan, yaitu; mereka menghendaki qisas, maka dilaksanakan hukum qisas, tapi jika menginginkan diyat, maka wajiblah pelaku membayar diyat.

Dasar hukum yang digunakan adalah sebuah hadis Rasul;

من قتل له قتيل فهو بخير النظرين إما يودي و إما يقاد[lxii]

Dan firman Allah swt.

فمن عفى له من أخيه شيء فاتباع بالمعروف…[lxiii]

Hukum qisas menjadi gugur dengan sebab-sebab sebagai berikut[lxiv]:

  1. Matinya pelaku kejahatan

Kalau orang yang akan menjalani qisas telah mati terlebih dahulu, maka gugurlah qisas atasnya, karena jiwa pelakulah yang menjadi sasarannya. Pada saat itu diwajibkan ialah membayar diyat yang diambil dari harta peninggalannya, lalu diberikan kepada wali korban si terbunuh. Pendapat ini mazhab Imam Ahmad serta salah satu pendapat Imam asy-Syafi’i. Sedangkan menurut Imam Malik dan Hanafiyah tidak wajib diyat, sebab hak dari mereka (para wali) adalah jiwa, sedangkan hak tersebut telah tiada. Dengan demikian tidak ada alasan bagi para wali menuntut diyat dari harta peninggalan si pembunuh yang kini telah menjadi milik para ahli warisnya.

  1. Adanya ampunan dari seluruh atau sebagian wali korban dengan syarat pemberi maaf itu sudah balig dan tamyiz.
  2. Telah terjadi sulh (rekonsiliasi) antara pembunuh dengan wali korban.[lxv]
  3. Adanya penuntutan qisas

 

  1. Sanksi Pengganti

1) Diyat

Diyat menurut istilah syara’ adalah;

المال الواجب بالجناية على النفس او ما فى حكمها [lxvi]

Dengan definisi ini berarti diyat dikhususkan sebagai pengganti jiwa atau yang semakna dengannya; artinya pembayaran diyat itu terjadi karena berkenaan dengan kejahatan terhadap jiwa/nyawa seseorang. Sedangkan diyat untuk anggota badan disebut ‘Irsy.

Dalil disyari’atkannya diyat adalah,

وماكان لمؤمن ان يقتل مؤمنا الاخطأ, ومن قتل مؤمناخطأ فتحريررقبة مؤمنة ودية مسلمة الى أهله إلا أن يصدقوا…[lxvii]

 

Dan hadis Rasul yang berbunyi,

من قتل له قتيل فهوبخير النظرين : إما يودى وإما يقاد[lxviii]

 

Pada mulanya pembayaran diyat menggunakan unta, tapi jika unta sulit ditemukan maka pembayarannya dapat menggunakan barang lainnya, seperti emas, perak, uang, baju dan lain-lain yang kadar nilainya disesuaikan dengan unta.

Menurut kesepakatan ulama, yang wajib adalah 100 ekor unta bagi pemilik unta, 200 ekor sapi bagi pemilik sapi, 2.000 ekor domba bagi pemilik domba, 1.000 dinar bagi pemilik emas, 12.000 dirham bagi pemilik perak dan 200 setel pakaian untuk pemilik pakaian.[lxix]

Hal ini sesuai dengan khabar dari Umar;

أن عمر قام خطيبا فقال : الا إن الإبل قد غلد. قال : فرضها عمر رضي الله عنه على أهل الذهب ألف دينار وعلى أهل الورق إثني عشر ألفا وعلى أهل البقر مأتي بقرة وعلى أهل الشاة ألفى شاة وعلى أهل الحلل مأتي حلل.[lxx]

Sedangkan diyat itu terbagi menjadi dua bagian, yaitu diyat mugallazah dan diyat mukhaffafah. Adapun diyat mugallazah menurut jumhur dibebankan kepada pelaku pembunuhan sengaja dan menyerupai pembunuhan sengaja. Sedangkan menurut Malikiyah, dibebankan kepada pelaku pembunuhan sengaja apabila waliyuddam menerimanya dan kepada bapak yang membunuh anaknya.[lxxi]

Jumlah diyat mugallazah adalah 100 ekor unta yang 40 diantaranya sedang mengandung. Ini berdasarkan hadis;

أن رسو ل الله عليه و سلم قال : من قتل مؤمنا متعمدا دفع إلى أولياءالمقتول : فإن شاؤوا قتلوا, وإن شاؤوا أخذ الدية وهى : ثلا ثون حقة, وثلاثون جذعة, وأربعون خلفة, وما صلحوا عليه فهو لهم, وذلك لتشديد العقل[lxxii] 

Jadi apabila dirinci dari 100 ekor unta tersebut adalah sebagai berikut :

  1. 30 ekor unta hiqqah (unta berumur 4 tahun)
  2. 30 ekor unta jad’ah (unta berumur 5 tahun)
  3. 40 ekor unta khalifah (unta yang sedang mengandung)

Adapun diyat mukhaffafah itu dibebankan kepada ‘aqilah pelaku pembunuhan kesalahan dan dibayarkan dengan diangsur selama kurun waktu tiga tahun, dengan jumlah diyat 100 ekor unta, yaitu :

  1. 20 ekor unta bintu ma’khad (unta betina berumur 2 tahun)
  2. 20 ekor unta ibnu ma’khad (unta jantan berumur 2 tahun)
  3. 20 ekor bintu labin (unta betina berumur 3 tahun)
  4. 20 ekor unta hiqqah dan,
  5. 20 ekor unta jad’ah.

Hal ini berdasar pada,

أنه قال : فى الخطإ عشرون جذعة, وعشرون حقة, وعشرون بنت لبون, وعشرون ابن لبون, وعشرون بنت مخاض[lxxiii]

 

Jadi diyat pembunuhan sengaja adalah diyat mugallazah yang dikhususkan pembayarannya oleh pelaku pembunuhan, dan dibayarkan secara kontan. Sedangkan diyat pembunuhan syibh ‘amd adalah diyat yang pembayarannya tidak hanya pada pelaku, tetapi juga kepada ‘aqilah (wali/keluarga pembunuh), dan dibayarkan secara berangsur-angsur selama tiga tahun.

Jumhur ulama berpendapat bahwa diyat pembunuhan sengaja harus dibayar kontan dengan hartanya karena diyat merupakan pengganti qisas. Jika qisas dilakukan sekaligus maka diyat penggantinya juga harus secara kontan dan pemberian tempo pembayaran merupakan suatu keringanan, padahal ‘amid[lxxiv] pantas dan harus diperberat dengan bukti diwajibkannya ‘amid membayar diyat dengan hartanya sendiri bukan dari ‘aqilah, karena keringanan (pemberian tempo) itu hanya berlaku bagi ‘aqilah.[lxxv]

Para ulama sepakat bahwa diyat pembunuhan sengaja dibebankan pada para pembunuh dengan hartanya sendiri. ‘Aqilah tidak menanggungnya karena setiap manusia dimintai pertanggung jawaban atas perbuatannya dan tidak dapat dibebankan kepada orang lain.

Hal ini berdasarkan firman Allah swt.      

 

…كلّ امرئ بما كسب رهين[lxxvi]

2)     Ta’zir

Hukuman ini dijatuhkan apabila korban mamaafkan pembunuh secara mutlak. Artinya seorang hakim dalam pengadilan berhak untuk memutuskan pemberian sanksi bagi terdakwa untuk kemaslahatan. Karena qisas itu di samping haknya korban, ia juga merupakan haknya Allah, hak masyarakat secara umum. Adapun bentuk ta’zirannya sesuai dengan kebijaksananaan hakim.[lxxvii]

  1. Sanksi Penyerta/Tambahan

Sanksi ini berupa terhalangnya para pembunuh untuk mendapatkan waris dan wasiat. Ketetapan ini dimaksudkan untuk sadd az-zara’i; agar seseorang tidak tamak terhadap harta pewaris sehingga menyegarakannya dengan cara membunuh, selain itu ada juga hukuman lain yaitu membayar kifarah, sebagai pertanda bahwa ia telah bertaubat kepada Allah. Kifarah tersebut berupa memerdekakan seorang hamba sahaya yang mu’min. Kalau tidak bisa, maka diwajibkan puasa selama dua bulan berturut-turut. Hal ini dinyatakan dalam firman Allah swt.,

…فدية مسلّمة الىاهله وتحرير رقبة مؤمنة, فمن لم يجد فصيام شهرين متتابعين…[lxxviii]

Serta sabda Rasul;

لا يرث القاتل شيئا[lxxix]

Serta sesuai dengan kaedah ushul;

من استعجل شيئا قبل أوانه عوقب بحرمانه[lxxx]

Sedangkan mengenai pembunuhan janin, dijelaskan bahwa apabila ada janin yang mati karena adanya jinayah atas ibunya baik secara sengaja atau kesalahan dan ibunya tidak ikut mati, maka diwajibkan hukuman yang berupa gurrah, baik janin itu mati setelah keluar dari kandungan atau mati di dalam kandungan serta baik janin itu laki-laki atau perempuan.Gurrah dalam hal hukuman tersebut adalah sebesar lima ratus dirham, atau sebanyak seratus kambing.Dan juga dikatakan besarnya adalah lima puluh unta.

Dasar dari pemberian hukuman gurrah tersebut adalah hadis:   

اقتتلت امرأتان من هذيل , فرمت إحداهما الأخرى بحجر فقتلتها وما فى بطنها, فاختصموا إلى رسول الله صلى الله عليه السلام, فقضى أن دية جنينها غرة عبد او وليدة, وقضى بدية المرأة على عاقلتها[lxxxi]

Sedangkan menurut ulama Hanafiyah[lxxxii] mengambil dalil dari hadis Rasul:

أن النبى صلى الله عليه السلام قال : فى الجنين غرة, عبد أو أمة, قيمته خمسمائة[lxxxiii]    

Apabila janin tersebut keluar dalam keadaan hidup kemudian mati, maka sanksinya adalah membayar diyat utuh, apabila janin itu laki-laki maka jumlah diyatnya adalah seratus ekor unta. Apabila janin itu perempuan, diyatnya sebanyak lima puluh ekor unta. Keadaan janin itu mati atau hidup bisa diketahui dengan ada tidaknya nafas, tangis, batuk, gerakan atau yang lainnya.

Imam Syafi’i mensyaratkan dalam hal janin yang mati di dalam kandungan ibunya, yaitu diketahui bahwa benar-benar sudah terbentuk mahluk hidup dan sudah adanya ruh dalam janin, beliau menjelaskan dengan pertanda adanya gambaran bentuk manusia yaitu adanya tangan dan jari-jari. Dan apabila hal itu tidak ada, maka menurut beliau tidak ada tanggungan apa-apa baik itu berupa gurrah ataupun diyat.

Sedangkan apabila seorang ibu mati karena penganiayaan dan janin keluar dalam keadaan hidup kemudian setelah itu mati, maka wajib dalam hal tersebut dua diyat, yaitu diyat atas si ibu dan diyat atas si janin, karena matinya si ibu merupakan salah satu sebab dari matinya janin.[lxxxiv]

Para ulama sepakat bahwa dalam hal janin yang mati setelah keluar dari kandungan, selain diwajibkan diyat juga diwajibkan kifarah. Sedangkan mengenai janin yang mati di dalam kandungan ibunya masih dipertanyakan, namun as-Syafi’i dan lainnya berpendapat tetap diwajibkan kifarah, karena menurutnya kifarah diwajibkan dalam perbuatan sengaja maupun karena kesalahan.[lxxxv]

 




[i] A. Hanafi, Asas-asas Hukum Pidana Islam, cet. ke-2 (Jakarta: Bulan Bintang, 1976), hlm. 9.

[ii] Ibid., hlm. 9-10.

[iii] Ibid., hlm. 6.

[iv] As-Sayyid Sabiq, Fiqh as-Sunnah,  (Kairo: Dar al-Fath Lil I’lam al-‘Arabi, 1990), III : 5

[v] Ibid.

[vi] Abu Bakar Jabir al-Jazairi, Minhaj al-Muslim, cet. ke-1 (Beirut: Dar al-Fikr, 1995), hlm. 425.

[vii] Ibid., hlm. 429.

[viii] Ibid., hlm. 430.

[ix] Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir, cet. ke-1, (Yogyakarta: Pustaka Progresif, 1992), hlm. 172.

[x] Wahbah az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, cet. ke-3 ( Damaskus: Dar al-Fikr, 1989 ), VI: 217.

[xi]Abdul Qadir ‘Audah, at-Tasyri’i al-Jina’i al-Islami ( Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, t.t.), II : 6.

[xii]As-Sayyid Sabiq, Fiqh as-Sunnah, cet. ke-2 ( Kairo: Dar ad-Diyan  li at-Turas, 1990 ), II : 263

[xiii] Topo Santoso, Membumikan., hlm. 38.

[xiv]  Abu Bakar Jabir al-Jazairi, Minhaj al-Muslim, hlm. 429-430.

[xv] Ibid., hlm. 430.

[xvi]  Ibid.

[xvii] Wahbah az-Zuhaili, al-Fiqh,VI : 220.

[xviii] Ibn Qudamah, al-Mugni, cet. ke-1 (Riyad: Maktabah ar-Riyad al-Hadisah, t.t.) VIII : 636-640, lihat juga Haliman, Hukum Pidana Syari’at Islam Menurut Ahlus Sunnah, cet.1 (Jakarta: Bulan Bintang, 1972 ), hlm. 152-153.

[xix]As-Sayyid Sabiq, Fiqh., II : 435.

[xx]Abdul Qadir ‘Audah, at-Tasyri’i., II : 10.

[xxi]Ibn Rusyd, Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtasid, cet. ke-2 ( Beirut: Dar al-Fikr, 1981 ) II : 232.

[xxii]Muhammad Ibnu Ahmad al-Khatib asy-Syarbaini, Mugni al-Muhtaj ( Mesir: Mustafa al-Bab al-Halabi  wa Aulad, 1958), IV : 6.

[xxiii] An-Nisa (4) : 92.

[xxiv] An-Nisa (4) : 93.

[xxv]Al-Hafiz Abi Abdillah Muhammad bin Yazid al-Qazwani, Sunan ibn Majah, Kitab al-Hudud, Bab al-Yahillu Dam Imriin Muslim Illa fi Salasah, ( Mesir: Dar al-Ihya’ al-Kutub al-‘Arabiyah, 1952 ), I : 874. Hadis nomor 2534. hadis riwayat ibn Majah dari ‘Ali ibn Muhammad dari ‘Abdullah ibn Murrah dari Masyruq dari ‘Abdullah ibn Mas’ud.

[xxvi] Abdurrahman I Doi, Hukum Pidana Menurut Syari’at Islam (Jakarta: Rineka Cipta, 1992), hm. 6.

[xxvii] A. Hanafi, Asas-asas Hukum Pidana., hlm. 55.

[xxviii] Ahmad Jazuli, Fiqh Jinayat, Upaya Menaggulangi Kejahatan dalam Hukum Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997), hlm. 26-27.

[xxix] As-Sayyid Sabiq, Fiqh., III : 38

[xxx] Balig adakalanya karena mimpi bersenggama atau karena faktor umur. Batas maksimal kebaligan seseorang berdasarkan umur adalah delapan belas tahun, dan batas minimalnya adalah lima belas tahun, ini berdasarkan hadis riwayat sahabat Ibnu ‘Umar. Adapun mengenai tumbuhnya bulu kemaluan para ulama berbeda pendapat dalam hal ini.

[xxxi]  Abu Bakar Jabir al-Jazairi, Minhaj al-Muslim, hlm. 425.

[xxxii] Ibid.

[xxxiii] Al-Baqarah (2) : 194.

[xxxiv] Asy-Syura (42) : 40.

[xxxv] As-Sayyid Sabiq, Fiqh, III :  49. 

[xxxvi] Abu Bakar Jabir al-Jazairi, Minhaj al-Muslim, hlm. 428.  

[xxxvii] Ibn Abdus samad at-Tamimi as-Samarqandi ad-Darami, Sunan ad-Darimi, Kitab ad-Diyah, Bab Kam ad-Diyah min al-Ibili (Beirut: Dar al-Fikr, t.t.). II : 192-193. Hadis Nomor 2260. Riwayat Umar ibn Hazm dari Bapaknya dari Kakeknya.

[xxxviii] Abu Bakar Jabir al-Jazairi, Minhaj al-Muslim, hlm. 428-429.

[xxxix] At-Turmuzi, al-Jami’ as-Sahih wa huwa Sunan at-Tirmizi, Kitab ad-Diyah ‘an Rasulillah, Bab Ma Ja’a fi Diyat al-Asabi’ (Beirut: Dar al-Fikr, 1988). IV: 8. Hadis Nomor 1311. Riwayat Ikrimah dari ibn Abbas.

[xl] Jalaluddin as-Suyuti, Sunan an-Nasa’i, Kitab al-Qasamah, Bab Zikru Hadis ‘Umar Ibn Hazm fi ‘Uqul wa Ikhtilaf an-Naqilaini (Beirut: Dar al-Fikr, 1930). Hadis Nomor 4774. Riwayat Ibn Hazm dari Bapaknya.

[xli] Abu Bakar Jabir al-Jazairi, Minhaj al-Muslim, hlm. 429-430.

[xlii] At-Turmuzi, al-Jami’ as-Sahih wa huwa Sunan at-Tirmizi, Kitab ad-Diyah ‘an Rasulillah. Bab Ma Ja’a fi al-Mudihah. IV: 7. Hadis Nomor 1310. Riwayat Umar ibn Syu’aib dari Bapaknya dari Kakeknya.

[xliii] Abu Bakar Jabir al-Jazairi, Minhaj al-Muslim, hlm. 429-430.

[xliv] Ibn Abdus Samad at-Tamimi as-Samarqandi ad-Darimi, Sunan ad-Darami, Kitab ad-Diyah, Bab Kam ad-Diyah min al-Ibili. Hadis Nomor 2260. Riwayat Umar ibn Hazm dari Bapaknya dari Kakeknya

[xlv]  Ibid.

[xlvi]  Ibid.

[xlvii] Abu Bakar Jabir al-Jazairi, Minhaj al-Muslim, hlm. 430

[xlviii] Wahbah az-Zuhaili, Al-Fiqh., VI : 261.

[xlix] Ibid.

[l] Ibid., VI : 264

[li] Al-Baqarah (2) : 179.

[lii] Wahbah az-Zuhaili, Al-Fiqh., VI : 297.

[liii] Abi Ishaq Ibrahim ibn Ali ibn Yusuf al-Fairuz Abadi asy-Syairazi, Al-Muhazzab,   (Semarang: Toha Putra, t.t.), II : 173

[liv] Abi Dawud, Sunan Abi Dawud, Kitab ad-Diyah, Bab Man Qatala fi ‘Immiya’ Baina Qoumin, ( Beirut: Dar al-Fikr, 1998 ), IV : 183. Hadis Nomor 4539. Riwayat Sufyan dari Amr dari Tawus.

[lv] Ibn Qudamah, Al-Mugni., VI : 648.

[lvi]At-Turmuzi, al-Jami’ as-Sahih wa huwa Sunan at-Tirmizi, Kitab ad-Diyah ‘an Rasulillah, Bab Ma Jaa fi ar-Rajuli Yuqtalu Ibnahu Yuqada am la, IV : 12. Hadis Nomor 1400. Riwayat Ibn Syu’aib dari Bapaknya dari Kakeknya dari Umar ibn Khatab

[lvii]Sunan Ibn Majah, Sunan., Kitab at-Tijarah, Bab Mali ar-Rajul min Mali Waladih, II : 769. Hadis Nomor 2291, Riwayat Jabir ibn Abdullah.  

[lviii]Abdul Qodir ‘Audah, at-Tasyri’., II : 132.

[lix] Wahbah az-Zuhaili, Al-Fiqh., IV: 276.

[lx] Al-Baqarah (2) : 178.

[lxi] Abu Dawud, Sunan., IV : 183.

[lxii]Abu ‘abdillah Muhammad ibn Ismai’il al-Bukhari, Sahih Bukhari, Kitab ad-Diyah, Bab Man Qutila lahu Qatilun fahuwa Bikhairi an-Nadhraini (Beirut: Dar al-Fikr, 1981)                                          IV: 38. Hadis Nomor 6372. Riwayat Abu Hurairah

[lxiii] Al-Baqarah (2) : 178.

[lxiv]Abdul Qodir ‘Audah, At-Tasyri’., I : 777-778 dan II : 155-169. Wahbah az-Zuhaili, Al-Fiqh., VI : 294.

[lxv]Perbedaannya dengan al-‘Afwu (pengampunan) adalah kalau sulh itu pengguguran qisas dengan ganti rugi (kompensasi), sedang al-‘Afwu terkadang pengampunan qisas secara mutlak.

[lxvi]Abdul Qodir ‘Audah, At-Tasyri’., I : 298.

[lxvii] An-Nisa )4) : 92

[lxviii]Abu ‘abdillah Muhammad ibn Ismai’il al-Bukhari, Sahih Bukhari, Kitab ad-Diyah, Bab Man Qutila lahu Qatilun fahuwa Bikhairi an-Nadhraini, IV: 38. Hadis Nomor 6372. Riwayat Abu Hurairah.

[lxix]As-Sayyid Sabiq, Fiqh., II : 552-553.

[lxx] Al-Baihaqi, As-Sunnah al-Kubra, Kitab ad-Diyah, Bab A’waz al-Ibil, ( Beirut: Dari al-Fikr, t.t. ), VIII : 77. Hadis riwayat ‘Amr ibn Syu’aib dari Bapaknya dari Kakeknya.

[lxxi] Wahbah az-Zuhaili, Al-Fiqh., VI : 304.

[lxxii] Mustafa Raib al-Baga, at-Tazhib, cet. ke-1 (Surabaya: Bungkul Indah, 1978), hlm. 192. lihat juga ِAt-Turmuzi, al-Jami’ as-Sahih wa huwa Sunan at-Tirmizi.

[lxxiii] Ibid., hlm. 196.

[lxxiv]Yaitu orang yang melakukan pembunuhan sengaja

[lxxv] Wahbah az-Zuhaili, Al-Fiqh., VI : 307.

[lxxvi] At-Tur (52) : 21.

[lxxvii] Wahbah az-zuhaili, Al-Fiqh., VI : 291-292 dan 312-313.

[lxxviii] An-Nisa (4) : 92.

[lxxix]Abu Dawud, Sunan., Kitab ad-Diyah, Bab Diyah al‘Ala, VI : 190. Hadis riwayat ibn Musa dari ‘Amr ibn Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya.

[lxxx]Jalaluddin Abdurrahman ibn Abi Bakr as-Suyuti, Al-Asybah wa an-Nazair, (Beirut: Dari al-Fikr, t.t. ), hlm. 103.

[lxxxi] Mustafa Raib al-Baga, At-Tazhib fi Adillati Matn al-Ghayah wa at-Taqrib  (Surabaya: Bungkul Indah, 1978), hlm. 193. Lihat juga Sahih Bukhari, Hadis Nomor 6512.

[lxxxii]Abdurrahman al-Jaziri, Kitab al-Fiqh ‘ala al-Mazahib al-Arba’ah (Beirut: Dar al-Fikr, t.t.), V : 372.

[lxxxiii]Ibid.

[lxxxiv] Ibid., V : 373.

[lxxxv] Ibid.

Kirim Komentar