Pages Menu
TwitterFacebook
Categories Menu

Posted by in Tokoh

Nurcholish Madjid: Biografi Dan Perjalanan Intelektual

Nurcholish Madjid adalah salah satu tokoh kenamaan di Indonesia yang memiliki visi modernitas dalam Islam. Ruang diskusi Islamnya bermuara pada 3 hal utama yakni: ke-Islaman, kemodernan dan ke-Indonesiaan. Fokus pemikiran Nurcholish Madjid pada diskursus Islam dan Modernitas bukannya tanpa alasan. Meskipun sering mengutip pernyataan sosiolog Robert. N Bellah bahwa Islam memiliki kelenturan luar biasa (compatible) dengan modernitas, dan bahwa hal-hal ideal di era modern Barat sekarang secara teknis sudah terdapat pada zaman Islam salaf (klasik), namun realitas kekinian yang berkembang di dunia Muslim, di mana proses modernisasi banyak menemui hambatan jelas menggelitik pikiran Nurcholish Madjid bahwa ada yang keliru dalam proses modernisasi di dunia Muslim.

Merunut semua peta pemikiran yang dimiliki oleh Nurcholish Madjid, pembahasan pada tulisan ini mengarah kepada penjelasan beberapa aspek penting. Pembahasan pertama mengarah kepada penjabaran tentang Riwayat Hidup dan Pendidikan Nurcholish Madjid. Selanjutnya, pembahasan diarahkan untuk mengupas tentang Aktivitas Intelektual dan Karya-karya Nurcholih Madjid. Arus Utama Pemikiran Nurcholish Madjid menjadi pembahasan lanjutan untuk melihat ciri khusus keberadaannya.Terakhir, pembahasan pada tulisan ini diarahkan untuk menjelaskan detik Akhir Hayat Nurcholish Madjid.

A. Riwayat Hidup dan Pendidikannya

Nurcholish Madjid

Nurcholish Madjid

Nurcholish Madjid atau yang biasa dipanggil Cak Nur (Sapaan akrab Nurcholish Madjid) lahir di Jombang, Jawa Timur, 17 Maret 1939,[i] bertepatan dengan tanggal 26 Muharram 1358 H. Nurcholish Madjid adalah putra dari seorang petani Jombang yang bernama H. Abdul Madjid. Abdul Madjid adalah seorang ayah yang rajin dan ulet dalam mendidik putranya dia adalah seorang figur ayah yang alim. Dia merupakan Kyai alim alumni pesantren Tebuireng dan termasuk dalam keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU), yang secara personal memiliki hubungan khusus dengan K.H Hasyim Asy’ari, salah seorang founding father Nahdlatul Ulama. H. Abdul Madjid inilah yang menanamkan nilai-nilai keagamaan kepada Nurcholish Madjid semenjak dirinya masih berusia 6 tahun.[ii]

Dalam mempersepsikan tatanan pendidikan yang diberikan oleh ayahnya, Nurcholish Madjid mencatat:

Meskipun pendidikan resmi Abdul Madjid hanya tamatan SR, tetapi ia memiliki pengetahuan yang luas. Fasih dalam bahasa Arab dan mengakar dalam tradisi pesantren. Abdul Madjid sering dipanggil “kyai haji”, sebagai penghormatan atas ketinggian ilmu keislaman yang dimilikinya, walaupun ia sendiri secara pribadi tidak pernah menyebut diri sebagai kyai dan tidak pernah secara resmi bergabung dengan kalangan ulama. Dan meskipun ia tetap menyebut diri sebagai orang biasa, namun hal itu tidaklah membendung keinginannya untuk mendirikan sebuah madrasah. Bahkan ia menjadi pengelola utama pada pembangunan madrasah yang ia kelola sendiri dan juga yang paling berperan dalam membesarkan madrasah wathoniyah di Mojoanyar Jombang.[iii]

Penanaman nilai-nilai keagamaan yang ditanamkan oleh H Abdul Madjid kepada Nurcholish Madjid, bukan saja melalui penanaman aqidah, moral, etika, atau pun dengan pembelajaran membaca al-Qur’an saja, akan tetapi juga dengan arah pendidikan formal bagi Nurcholish Madjid.[iv] Pendidikan dasar yang ditempuhnya pada dua sekolah tingkat dasar, yaitu di Madrasah al-Wathoniyah dikelola oleh ayahnya sendiri dan di Sekolah Rakyat (SR) di Mojoanyar, Jombang.

Pemikiran Nurcholish Madjid yang sedemikian rupa tentu tidak lepas dari pengaruh lingkungan rumah dan eksistensi keluarga serta pengaruh terbesarnya terletak pada asuhan yang diberikan oleh sang ayah. Jadi, sejak tingkat dasar, Nurcholish Madjid telah mengenal dua model pendidikan. Pertama, pendidikan dengan pola madrasah, yang sarat dengan penggunaan kitab kuning sebagai bahan rujukannya. Kedua, Nurcholish Madjid juga memperoleh pendidikan umum secara memadai, sekaligus berkenalan dengan metode pengajaran modern. Pada masa pendidikan dasar ini, khususnya di Madrasah Wathoniyah, Nurcolish Madjid sudah menampakkan kecerdasannya dengan berkali-kali menerima penghargaan atas prestasinya.[v]

Selepas menamatkan pendidikan dasarnya di Sekolah Rakyat (SR) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) pada tahun 1952, Nurcholish Madjid melanjutkan pendidikannya pada jenjang yang lebih tinggi. Pesantren Darul ‘Ulum Jombang menjadi pilihan ayahnya dan dipatuhi oleh Nurcholish Madjid. Di pesantren ini Nurcholish Madjid hanya mampu menjalani proses belajarnya selama dua tahun. Atas izin ayahnya, kemudian Nurcholish Madjid pindah ke Pondok Pesantren Darussalam, KMI (Kulliyat Mu’alimien al Islamiah) Gontor Ponorogo pada tahun 1955. hal ini disebabkan penderitaan yang dialami Nurcholish Madjid karena ejekan yang datang dari teman-temannya, terkait dengan pendirian politik ayahnya yang terlibat di Masyumi.[vi]

Di Gontor, Nurcholish Madjid selalu menunjukkan prestasi yang baik, sehingga dari kelas 1 ia langsung bisa loncat ke kelas 3. Di pesantren ini, ia banyak mempelajari bahasa asing terutama Bahasa Arab.[vii] Sehubungan dengan kemampuan berbahasa Arab ini, terdapat suatu cerita menarik dari Nurcholish Madjid (untuk selanjutnya ditulis dengan nama akrabnya, Cak Nur):

Suatu hari ia pulang ke rumah, Ayahnya, Abdul Madjid dikenal memiliki koleksi kitab yang banyak dan tidak ada yang bisa membaca selain ayahnya sendiri. Ketika pulang ke rumahnya, ditunjukkan beberapa kitab berbahasa Arab dari Mesir dan ayahnya tidak bisa membaca. Sementara Cak Nur mampu membaca kitab-kitab ayahnya itu dengan baik.[viii]

Kurikulum yang diberikan Gontor menghadirkan perpaduan yang liberal, yakni tradisi belajar klasik dengan gaya modern Barat. Para santri diwajibkan menggunakan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris secara aktif dalam berkomunikasi antar santri di lingkungan pesantren. Pelajaran agama yang diajarkan dengan menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantarnya di semua kelas kecuali kelas tahun pertama. Tujuan Penekanan pada santri-santri dalam menggunakan kedua bahasa tersebut sebagai bahasa pengantar sehari-hari, yakni mengantarkan para santrinya ke dalam cakrawala pengetahuan yang lebih luas.

Semboyan Gontor yang berbunyi “berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas dan berfikiran bebas” memberikan penekanan keseimbangan antara kesehatan jasmani dan rohani, menciptakan iklim yang kondusif bagi santrinya untuk pemikiran kritis dan maju secara intelektual. Di pesantern inilah Nurcholish Madjid masuk ke KMI (Kulliyatul Mu’alimien alIslamiah) selama enam tahun. Pada tahun 1960 Nurcholish Madjid menyelesaikan studi di Gontor dan untuk beberapa tahun ia mengajar di bekas almamaternya. Pondok pesantren Gontor dan orang tuanyalah yang merupakan unsur yang cukup berpengaruh dalam perkembangan intelektual Nurcholish Madjid.[ix]

Perkembangan intelektual Nurcholish Madjid di Gontor berjalan seiring dengan besarnya perhatian orang tuanya H. Abdul Madjid dalam mendidik. Untuk itulah akselerasi belajar yang diperolehnya tersebut menghantarkannya sebagai santri berprestasi. Prestasi belajar Cak Nur yang fenomenal itu, diperhatikan oleh KH. Zarkasyi, salah satu pengasuh pesantren Gontor, dan ketika tamat pada tahun 1960, sang guru bermaksud mengirimkannya ke Universitas al-Azhar, Kairo Mesir. Karena waktu itu di Mesir terjadi krisis politik akibat problem Terusan Suez, keberangkatan Cak Nur ke Mesir tertunda, dan untuk sementara waktu Cak Nur mengajar di almamaternya. Ketika terbetik kabar bahwa di Mesir sulit memperoleh visa, sang guru tahu bahwa Cak Nur sangat kecewa dan untuk menghiburnya, KH. Zarkasyi mengirim surat ke IAIN Jakarta meminta agar murid kesayangannya itu dapat diterima, dan dengan bantuan alumni Gontor di IAIN tersebut, Cak Nur bisa diterima, meski tanpa ijazah negeri.[x]

Atas petunjuk gurunya KH. Zarkasyi inilah Nurcholish Madjid meneguhkan pilihannya untuk melanjutkan studi di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pilihannya terhadap IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta berkaitan erat dengan minatnya yang besar terhadap pemikiran keislaman. Pemikirannya yang kritis dan keberanian pengembaraan intelektualitasnya ditunjukkan ketika ia menulis skripsi yang berjudul Al-Qur’an ‘Arabiyun Lughatan Wa ‘Alamiyun Ma’nan (Al-Qur’an secara Bahasa adalah Bahasa Arab, secara Makna adalah Universal). Tema skripsi yang diangkat oleh Nurcholish Madjid tersebut setidaknya telah menyiratkan kekritisan dan corak berfikir keislaman yang inklusif. Kuliahnya diselesaikan pada tahun 1968 dengan prediket cum laude.[xi]

Ketika di Jakarta, sembari kuliah di IAIN Syarif Hidayatullah, Nurcholish Madjid tinggal di Masjid Agung al-Azhar, Kebayoran Baru dan sedemikian Akrab dengan Buya Hamka dan ia sedemikian kagum terhadap dakwah Buya yang mampu mempertemukan pandangan kesufian, wawasan budaya dan semangat al-Qur’an sehingga paham keislaman yang ditawarkan Buya sangat menyentuh dan efektif untuk masyarakat Islam kota.[xii]

Minat Nurcholis Madjid terhadap kajian keislaman semakin mengkristal dengan keterlibatannya di HMI. Dia terpilih menjadi Ketua Umum Pengurus Besar HMI selama dua periode berturut-turut dari tahun 1966-1969 hingga 1969-1971. Ia pun menjadi presiden Persatuan Mahasiswa Islam Asia Tenggara (PEMIAT) periode 1967-1969. Dan untuk masa bakti 1969-1971, Cak Nur menjadi Wakil Sekretaris Umum International Islamic Federation of StudentsOrganisation (IIFSO).[xiii]

Kepemimpinan Nurcholish Madjid pada organisasi mahasiswa tingkat nasional tersebut merupakan hal amat penting dalam jalur intelektualisme kehidupannya. Pada sisi lain, keterlibatannya pada kegiatan internasional yakni kunjungannya ke Timur Tengah[xiv] dan ke Amerika Serikat[xv] telah semakin mematangkan petualangan intelektualitasnya. Pada saat-saat itulah, Nurcholish Madjid melontarkan gagasan kontroversial, yang sangat menyengat kalangan Masyumi yang waktu itu sedemikian getol memperjuangkan visi Islam Politik,[xvi] yakni jargon Islam Yes, Partai Islam No.[xvii] Banyak reaksi keras yang dialamatkan kepadanya, namun dia tak bergeming, bahkan semakin aktif dengan gagasan-gagasannya, dengan mendirikan Yayasan Samanhudi dan ia menjadi direkturnya selama tahun 1974-1976.[xviii] Atas dasar itu, dalam perspektif Majalah Tempo–hingga batas tertentu— pemikiran Nurcholish Madjid telah menyebabkan Ormas-ormas Islam yang telah menerima asas tunggal (Pancasila) merasa lebih damai karena telah menemukan kebenaran.[xix]

Pada tahun 1984, ia berhasil menyandang gelar philosophy Doctoral (Ph.D) di Universitas Chicago dengan nilai cum laude. Adapun disertasinya ia mengangkat pemikiran Ibnu Taymiah dengan judul “Ibn Taymiyah dalam ilmu kalam dan filsafat: masalah akal dan wahyu dalam Islam” (Ibn Taymiyah in Kalam and Falsafah: a Problem of Reason and Revelation in Islam). Disertasi doktoral yang dilakukan ini menunjukkan atas kekaguman dirinya terhadap tokoh tersebut. Kekaguman ini pun menjadi pengakuan yang disampaikannya.

Nurcolish Madjid bukan hanya memiliki prestasi akademik yang menakjubkan, tapi sebagai seorang aktivis-pun ia dipercaya untuk menempati posisi penting pada berbagai organisasi kepemudaan. Ini menyiratkan dedikasinya dalam me-managewaktu antara aktivitas akademik dengan aktivitas organisasinya, hal mana sulit dilakukan oleh rekan-rekan aktivis lainnya. Pada saat yang bersamaan Nurcholish Madjid telah mampu membuktikan integritasnya sebagai intelektual yang produktif.

Dunia formal yang ia jalani selama kurun waktu 36 tahun sejak tahun 1984, penuh dengan segudang pengalaman dan prestasi akademik yang sanggat memuaskan. Hal tersebut dibuktikan oleh Nurcholish Madjid dengan prediket cum laude yang setidaknya dapat dijadikan tolak ukur dari kapasitas intekektualnya. Karir Nurcholish Madjid semakin sempurna tatkala ia dinobatkan sebagai Guru besar IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai rasa penghargaan pihak kampus baginya yang begitu lama menggeluti dunia keilmuan pada tangggl 10 Agustus 1998. Adapun pidato pengukuhannya sebagai guru besar berjudul “Kalam Kekhalifahan Manusia Reformasi: Suatu Percobaan Pendekatan Sistematis Terhadap Konsep Antropologis Islam.”

B. Aktivitas Intelektual dan Karya-karya Nurcholih Madjid

Kelincahan Nurcholish Madjid di dunia organisasi selama menjadi mahasiswa tidak terlepas dari pengaruh sosiologis dan ideologis KMI Gontor, tempat ia mengenyam pendidikan keagamaan. KMI Gontor bukan saja berbentuk pesantren yang semata-mata menyuguhi para santrinya materi keagamaan klasik an sich, tidak hanya menyuguhi para santrinya untuk menguasai materi pelajaran di kelas, tetapi lebih dari itu semua, Gontor merupakan pesantren modern yang mengajarkan mereka bagaimana cara berorganisasi dengan baik. Hal itulah yang dirasakan oleh Nurcholish Madjid.

Selama di KMI Gontor, Nurcholish Madjid sudah terbiasa dengan dinamika keilmuan, aktivitas keorganisasian, yang karenanya, ia begitu berwujud sebagai mediator kepemimpinan tatkala terjun di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) selama berkiprah di dunia kampus. Dalam menjalankan roda organisasi Nurcholish Madjid banyak menerapkan komitmen ke-KMIannya[xx] yang memang diajarkan oleh para pengasuhnya.

Di organisasi HMI ini, Nurcholish Madjid akhirnya terpilih sebagai ketua umum PB HMI untuk dua tahun berturut-turut yakni periode 1966 sampai 1969 dan periode 1969 sampai 1971. Berkat kepiawaiannya sebagai mantan ketua umum PBHMI, selama menjadi mahasiswa di Amerika ia pun dipercaya untuk menjadi presiden persatuan mahasiswa Islam Asia Tenggara (PEMIAT) pada tahun 1967-1969 dan berikutnya ia dipercaya pula untuk menjabat sebagai wakil Sekjen IIFSO (International Islamic Federation of Student Organization/ Federasi Organisasi-Organisasi Mahasiswa Islam Internasional) pada tahun 1967-1971.[xxi]

Dalam perkembangan karirnya, Nurcholish Madjid menduduki beberapa posisi sentral. Di antara beberapa karir sentral yang dicapainya adalah; menjadi staf pengajar di IAIN Syarif Hidayatullah Ciputat Jakarta tahun 1972-1974, menjadi pemimpin umum majalah mimbar Jakarta tahun 1971-1974, dan juga menjadi pemimpin redaksi majalah Forum. Bersama teman-temannya, ia mendirikan dan memimpin LSIK (Lembaga Studi Ilmu-ilmu Kemasyarakatan), pada tahun 1972-1976 dan LKIS (Lembaga Kebijakan Islam Samanhudi) tahun 1974-1977. Nurcholish Madjid bekerja di LEKNAS LIPI (Lembaga Peneliti Ekonomi dan Sosial) di Jakarta tahun 1978-1984, menjadi dosen di Fakultas Adab dan Pasca Sarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pada tahun 1986 Nurcholish Madjid mendirikan dan menjadi ketua Yayasan Wakaf Paramadina Mulya, yang aktif dalam kajian keislaman dan menjadi penulis tetap harian pelita, Jakarta pada tahun 1988. Nurcholish Madjid menjadi anggota MPR RI, pada bulan Agustus 1991 dan menjadi dosen tamu di Institut of Islamic Studies, Mc Gill University, Montreal, Canada. Sejak tahun 1988 Nurcholish Madjid dikukuhkan sebagai guru besar luar biasa dalam ilmu filsafat Islam sekaligus menjadi Rektor Paramadina Mulya, Jakarta.[xxii] Tahun 1991 Nurcholish Madjid juga menjabat sebagai ketua Dewan Pakar Ikatan Cendikiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI). Menjadi anggota Komisi Nasional Hak-hak Asasi Manusia (KOMNAS HAM) dan pada tahun 1993 tercatat sebagai salah seorang anggota MPR RI.[xxiii]

Pada tanggal 3 Januari 1970, dalam acara malam silaturrahmi organisasi pemuda, pelajar, mahasiswa dan sarjana muslim yang tergabung dalam HMI, GPI (Gerakan Pemuda Islam), PII (Pelajar Islam Indonesia) dan Persami (Persatuan Sarjana Muslim Indonesia) Nurcholish Madjid menggantikan pidatonya Dr. Alfian yang berhalangan datang. Pidato yang disampaikannya dalam acara besar tersebut berjudul “Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat”.[xxiv]

Dari pidato yang disampaikannya ini Nurcholish Madjid mulai menuai pandangan yang sangat kontroversial termasuk dari para seniornya, semisal. Rasjidi, dikarenakan anjurannya terhadap sekularisasi. Isi pembahasan dari judul pidato, “Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat” yakni mencakup; Islam Yes, Partai Islam No; kuantitas versus kualitas, liberalisasi pandangan terhadap ajaran Islam sekarang (sekularisasi, kebebasan berfikir, idea of progress, dan sikap terbuka), dan perlunya kelompok pembaharuan “liberal”. Liberalisasi pemikiran Nurcholish Madjid dimulai dari penyampaian pidatonya pada acara HUT ke-3 HMI di Jakarta, 5 Pebruari 1970, dengan judul “pembaharuan pemikiran dalam Islam”. Kegigihannya untuk mengembangkan pola-pola penyegaran paham keagamaan Islam dilakukannya pada saat memberikan kuliah di pusat kesenian Jakarta, 30 Oktober 1972, dengan judul “Menyegarkan Paham Keagamaan di Kalangan Umat Islam Indonesia”.[xxv]

Nurcholish Madjid adalah seorang dari sedikit intelektual muslim Indonesia dan menjadi orang nomor satu di Paramadina. Ia dilahirkan dari kalangan Islam tradisionalis yang kuat. Nurcholish Madjid sejak memperoleh pendidikan di Pesantren Gontor, yaitu pesantren yang menerapkan semboyan “berfikir babas setelah berbudi tinggi, berbadan sehat dan berpengetahuan luas”, sangat mempengaruhi pemikirannya untuk tidak memihak pada salah satu madzhab Islam.

Pada saat Nurcholish Madjid masih aktif dalam Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia (HMI), satu periode di mana Republik Indonesia sedang bergejolak dan merupakan masa transisi dari rezim lama ke rezim baru yang membawa paradigma baru, termasuk paradigma dalam membangun Indonesia ke depan saat itu yang kemudian menjadi “latar belakang” yang sedikit banyak menjadi variabel signifikan bagi lahirnya gagasan dan pemikiran keislaman Nurcholish Madjid yang relatif “asing” bagi umat Islam saat itu.[xxvi]

Nurcholish Madjid sejak menjadi mahasiswa telah aktif menulis tentang kajian keislaman maupun politik, sehingga dia sempat mendapatkan gelar “Natsir Muda”. Gelar tersebut didapat Nurcholish Madjid dengan ciri khas orang yang anti dan sangat membenci Barat, akan tetapi sikap itu pada akhirnya runtuh ketika Nurcholish Madjid usai melakukan kunjungannya di Amerika Serikat dan beberapa Negara Timur Tengah[xxvii] yang akhirnya gelar tersebut dicopot.

Pada saat Nurcholish Madjid melaksanakan pendidikan di Chicago, Amerika Serikat, beliau menjadi murid seorang ilmuan muslim ternama neomodernisme dari Pakistan yaitu Fazlur Rahman. Diperguruan inilah Fazlur Rahman mengotak-atik pemikiran Nurcholish Madjid untuk dibawa ke bidang kajian keislaman. Pengaruh Fazlur Rahman terhadap gerakan intelektual Nurcholish Madjid bukan untuk mengubah pola pemikiran Nurcholish Madjid. Hanya saja, bukan mengatakan sama sekali, Fazlur Rahman telah begitu berpengaruh dalam mengantarkan pemikiran Nurcholish Madjid untuk kembali kepada warisan klasik kesarjanaan Islam.

C. Karya-karya Intelektual Nurcholish Madjid

Nurcholish Madjid dapat dikelompokkan pada penulis yang produktif. Sekembalinya dari studi, bersama kawan dan koleganya pada tahun 1986 mendirikan Yayasan Wakaf Paramadina.[xxviii] Di lembaga inilah sebagian besar Nurcholish Madjid mencurahkan hidup dan energi intelektualnya (sehingga pada akhirnya melahirkan Universitas Paramadina Mulya, dengan obsesi mampu menjadi pusat kajian Islam kesohor di dunia) di samping sebagai peneliti LIPI sebagai profesi awalnya dan sekaligus sebagai Profesor Pemikiran Islam di IAIN (kini UIN Syarif Hidayatullah Jakarta). Dalam perjalanan hidupnya, ia telah menghasilkan banyak artikel ataupun makalah yang telah dibukukan. Beberapa karyanya antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Khazanah Intelektual Islam.[xxix] Karya ini menurut penulisnya dimaksudkan untuk memperkenalkan salah satu aspek kekayaan Islam dalam bidang pemikiran, khususnya yang berkaitan dengan filsafat dan teologi. Dalam buku ini dibahas pemikiran al-Kindi, al-Farabi, Ibn Sina, al-Ghazali, Ibn Rusyd, Ibn Taymiyah, Ibn Khaldun, Jamal al-Din alAfghani dan Muhammad Abduh.
  2. Islam Kemodernan dan Keindonesiaan.[xxx] Dalam buku ini, yang merupakan kumpulan tulisan selama dua dasawarsa melontarkan gagasan Nurcholish Madjid tentang korelasi kemodernan, keislaman dan keindonesiaan, sebagai respon terhadap berbagai persoalan dan isu-isu yang berkembang di saat itu.
  3. Islam Doktrin dan Peradaban: Sebuah Telaah Kritis tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan dan Kemodernan.[xxxi] Buku ini merupakan karya monumentalnya pasca studi di Chicago. Dalam buku ini, Cak Nur berusaha mengungkapkan ajaran Islam yang menekankan sikap adil, inklusif dan kosmopolit.
  4. Islam Kerakyatan dan Keindonesiaan: Pikiran-Pikiran Nurcholish Madjid “Muda”.(1994)
  5. Pintu-Pintu Menuju Tuhan (1994). Buku ini merupakan kumpulan sebagian besar tulisan Cak Nur di harian Pelita dan Tempo. Menurut penulisnya, buku ini merupakan penjelasan lebih sederhana dan “ringan” (populer) dari gagasan Islam inklusif dan Universal yang menjadi tema besar buku Islam Doktrin dan Peradaban.
  6. Islam Agama Peradaban: Membangun Makna dan Relevansi Doktrin Islam dalam Sejarah (1995). Dalam buku ini pemikiran Cak Nur lebih terarah pada makna dan implikasi penghayatan Iman terhadap perilaku sosial yang senantiasa mendatangkan dampak positif bagi kemajuan peradaban kemanusiaan.
  7. Islam Agama Kemanusiaan: Membangun Tradisi dan Visi Baru Islam Indonesia (1995). Buku ini sama dengan karya monumentalnya, hanya saja, Cak Nur menyajikannya dengan wawasan yang lebih kosmopolit dan universal sekaligus mempertimbangkan aspek parsial dan kultural paham-paham keagamaan yang berkembang.
  8. Masyarakat Religius (1997). Buku ini mengetengahkan konsep Islam tentang kemasyarakatan, antara komitmen pribadi dan komitmen sosial serta konsep tentang eskatologi dan kekuatan adi-alami.
  9. Tradisi Islam: Peran dan Fungsinya dalam pembangunan di Indonesia (1997). Dalam buku ini Cak Nur mengetengahkan tentang peran dan fungsi Pancasila, organisasi politik, demokratisasi, demokrasi dan konsep oposisi loyal.
  10. Kaki Langit Peradaban Islam (1997), mengetengahkan tentang wawasan peradaban Islam, kontribusi tokoh intelektual Islam semisal Al-Shafi’i dalam bidang hukum, al-Gazali dalam bidang tasawuf, ibn Rusyd dalam filsafat dan Ibn Khaldun dalam filsafat sejarah dan sosiologi.
  11. Bilik-Bilik Pesantren: Sebuah potret Perjalanan (1997), yang membahas tentang dinamika pesantren serta kontribusinya dalam peradaban Islam di Indonesia.
  12. Dialog Keterbukaan: Artikulasi Nilai Islam dalam Wacana Sosial Politik Kontemporer (1997). Buku yang merupakan transkrip wawancara yang pernah dilakukan oleh Cak Nur memiliki mainstream bagaimana nilainilai universal dan kosmopolit Islam diaktualisasikan dalam praktik politik kontemporer.
  13. Cendekiawan dan Religiusitas Masyarakat: Kolom-Kolom di Tabloid “Tekad” (1999). Dalam buku ini Cak Nur berusaha menjelaskan pemikiran-pemikirannya tentang keterkaitan antara dimensi keislaman dengan dimensi keindonesiaan dan kemodernan sekaligus. Buku ini merupakan kumpulan tulisan Cak Nur di Tabloid Tekad yang merupakan suplemen dalam harian Republika, sebuah koran harian yang diterbitkan oleh ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia).
  14. Cita-cita Politik Islam di Era Reformasi (1999). Buku ini merupakan perjalanan panjang politik NurcholishMadjid dalam wacana perpolitikan di Indonesia. Dalam buku ini prototype negara Madinah yang telah didirikan Nabi Muhammad sedemikian ditekankan oleh Cak Nur sebagai sesuatu yang sangat cocok untuk diterapkan kini, mengingat nilainilainya sedemikian modern bahkan terlalu modern untuk masanya sehingga tidak bertahan lama.
  15. Indonesia Kita (2003). Dalam buku yang merupakan karya tulis terakhirnya, Nurcholish Madjid berusaha memahami secara lebih luas dan mendalam tentang hakikat dan persoalan bangsa dan negara Republik Indonesia sejak dari masa lampau sampai sekarang yang menantang. Dalam buku ini dimuatpokok pemikiran Cak Nur ketika mencalonkan diri sebagai Presiden RI yang meskipun kandas melalui konvensi Partai Golkar yang terkenal dengan Sepuluh Platform Membangun Kembali Indonesia.

Di samping itu, terdapat beberapa ceramahnya yang juga dibukukan, seperti Perjalanan Religius Umrah dan Haji; Pesan-Pesan Takwa Nurcholis Madjid: Kumpulan Khutbah Jum’at di Paramadina; 30 Sajian Ruhani: Renungan di Bulan Ramadhan.

Pada sisi lain, ia juga banyak menulis artikel yang tersebar di beberapa buku suntingan orang lain,[xxxii] baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris, yang tersebar di beberapa jurnal nasional[xxxiii] maupun jurnal internasional.[xxxiv]

  1. Karya-karya dalam Bahasa Inggris
    • The Issue of Modernization Among Muslimin in Indonesia: From a participant’s Paint of View, dalam Gloria Davies (ed.)
    • What is Modern Indonesia Culture? (Athens, Ohio, University of Ohio Southeast Asia Studies, 1979)
    • Islam in the Contemporary World, (Notre Dame, Indiana, Cross Roads Books, 1980)

 

  1. Karir dan aktivitas intelektual Nurcholish Madjid di tingkat internasional.
    1. Presenter, Seminar Internasional tentang “Agama Dunia dan Pluralisme”, November 1992, Bellagio, Italia.
    2. Presenter, Konferensi Internasional tentang “Agama-agama dan Perdamaian Dunia”, April 1993, Wina, Austria.
    3. Presenter, Seminar Internasional tentang “Islam di Asia Tenggara”, Mei 1993, Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat.
    4. Presenter, Seminar Internasional tentang “Persesuaian aliran Pemikiran Islam”, Mei 1993, Teheran, Iran.
    5. Presenter, Seminar internasional tentang “Ekspresi-ekspresi kebudayaan tentang Pluralisme”, Jakarta 1995, Casablanca, Maroko
    6. Presenter, seminar internasional tentang “Islam dan Masyarakat sipil”, Maret 1995, Bellagio, Italia
    7. Presenter, seminar internasional tentang “Kebudayaan Islam di Asia Tenggara”, Juni 1995, Canberra, Australia
    8. Presenter, seminar internasional tentang “Islam dan Masyarakat sipil”, September 1995, Melbourne, Australia
    9. Presenter, seminar internasional tentang “Agama-agama dan Komunitas Dunia Abad ke-21,” Juni 1996, Leiden, Belanda.
    10. Presenter, seminar internasional tentang “Hak-hak Asasi Manusia”, Juni 1996, Tokyo, Jepang
    11. Presenter, seminar internasional tentang “Dunia Melayu”, September 1996, Kuala Lumpur, Malaysia
    12. Presenter, seminar internasional tentang “Agama dan Masyarakat Sipil”, 1997 Kuala lumpur
    13. Pembicara, konferensi USINDO (United States Indonesian Society), Maret 1997, Washington, DC, Amerika Serikat
    14. Peserta, Konferensi Internasional tentang “Agama dan Perdamaian Dunia” (Konperensi Kedua), Mei 1997, Wina, Austria
    15. Peserta, Seminar tentang “Kebangkitan Islam”, November 1997, Universitas Emory, Atlanta, Georgia, Amerika Serikat
    16. Pembicara, Seminar tentang “Islam dan Masyarakat Sipil” November 1997, Universitas Georgetown, Washington, DC, Amerika Serikat
    17. Pembicara, Seminar tentang “Islam dan Pluralisme”, November 1997, Universitas Washington, Seattle, Washington DC, Amerika Serikat
    18. Sarjana Tamu dan Pembicara, Konferensi Tahunan, MESA (Asosiasi Studi tentang Timur Tengah), November 1997, San Francisco, California, Amerika Serikat
    19. Sarjana Tamu dan Pembicara, Konferensi Tahunan AAR (American Academy of Religion) Akademi Keagamaan Amerika, November 1997, California, Amerika Serikat
    20. Presenter, Konferensi Internasional tentang “Islam dan Hak-hak Asasi Manusia”, Oktober 1998, Jenewa, Swiss
    21. Presenter, Konferensi Internasional tentang “Agama-agama dan Hakhak asasi Manusia”, November 1998 State Department (Departemen Luar Negeri Amerika), Washington DC, Amerika Serikat
    22. Peserta Presenter “Konferensi Pemimpin-pemimpin Asia”, September 1999, Brisbane, Australia
    23. Presenter, Konferensi Internasional tentang “Islam dan Hak-hak Asasi Manusia, pesan-pesan dari Asia Tenggara”, November 1999, Ito, Jepang
    24. Peserta, Sidang ke-7 Konferensi Dunia tentang Agama dan Perdamaian (WCRP), November 1999, Amman, Yordania.[xxxv]

D. Arus Utama Pemikiran Nurcholish Madjid

Pada bagian ini, penulis memberikan gambaran sesuai pemahaman penulis. Ada kemungkinan terjadi kekurangan atau kesalahan dari memahami pemikiran beliau secara utuh.

Kapasitas intelektual Nurcholish Madjid memang terbilang istimewa. Ia bukan saja menguasai secara sangat mendalam tradisi ilmu-ilmu keislaman klasik, sehingga dengan fasih berbicara mengenai banyak hal yang berkaitan dengan khazanah keilmuan Islam tradisional, melainkan juga mempunyai dasar-dasar yang kukuh di bidang tradisi ilmu-ilmu sosial modern, sehingga mahir mengartikulasikan gagasan-gagasan yang berkaitan dengan dinamika sosial dan perkembangan masyarakat. Tentu saja kemampuan tersebut merupakan kombinasi sempurna, untuk bisa menyuarakan ide-ide pembaruan di kalangan umat Islam. Cak Nur mempunyai otoritas intelektual yang bisa dipertanggungjawabkan, untuk berbicara tentang masalah-masalah strategis baik yang berkaitan dengan tema keislaman maupun tema social kemasyarakatan. Kombinasi dua kemampuan itulah yang melahirkan sinergi, sehingga bisa menopang gerakan pembaruan Islam di Indonesia.[xxxvi]

Nurcholish Madjid setelah pulang dari Chicago, yang membawa gelar Doctoral di bawah asuhan Fazlur Rahman, adalah salah satu eksponen pembaharu pemikiran keislaman kenamaan. Nurcholish Madjid merupakan motor terhadap pembaharuan pemikiran tersebut dan menandaskan perlunya kaum muslimin untuk mengapresiasi tradisi intelektualnya sendiri, justru dalam rangka pembaharuan pemikiran Islam. Ia sadar sepenuhnya bahwa pembaharuan pemikiran Islam akan jauh lebih sehat jika peluang-peluang yang dimungkinkan, hadir dari warisan intelektual Islam itu sendiri. Hal ini mengacu kepada suatu realitas bahwa warisan kaya itu bukanlah sesuatu yang baku dan sudah siap pakai, melainkan lebih karena keberadaannya perlu diterjemahkan kembali dan dirangkai secara organis dengan produk-produk akal budi manusia dari zaman modern. Hasilnya, ia akan memberi peluang dasar bagi terobosan-terobosan konstruktif di masa depan.[xxxvii]

Fokus utama yang menjadi pemikiran Nurcholish Madjid, terkait dengan pembaharuan pemikiran Islam, ialah bagaimana memperlakukan ajaran Islam yang merupakan ajaran universal dan dalam hal ini dikaitkan sepenuhnya dengan konteks (lokalitas) Indonesia. Bagi Nurcholish Madjid, Islam hakikatnya sejalan dengan semangat kemanusiaan universal. Hanya saja, sekalipun nilai-nilai dan ajaran Islam bersifat universal, pelaksanaan tersebut harus disesuaikan dengan pengetahuan dan pemahaman tentang lingkungan sosio-kultural masyarakat yang bersangkutan. Dalam konteks Indonesia, maka harus juga dipahami kondisi riil masyarakat dan lingkungan secara keseluruhan termasuk lingkungan politik dalam kerangka konsep “Negara bangsa”.[xxxviii]

Keuniversalan Islam berlaku menembus ruang dan waktu, sementara ajaran-ajarannya tidak terbatas pada ruang dan waktu di mana Nabi Muhammad SAW dilahirkan dan mendapatkan perintah untuk menyebarkan ajarannya. Islam adalah kemanusiaan yang membuat cita-citanya sejajar dengan cita-cita kemanusiaan universal. Dengan kata lain, Nurcholish Madjid memaparkan pendapatnya tentang inklusifisme yang berpijak pada semangat humanitas dan universalisme Islam.

Adapun yang dimaksud dengan semangat humanitas adalah bahwa pada dasarnya Islam merupakan agama kemanusiaan (fitrah) atau dengan kata lain, cita-cita Islam sejalan dengan cita-cita kemanusiaan pada umumnya. Kerasulan dan misi nabi Muhammad adalah untuk mewujudkan rahmat bagi seluruh alam. dan bukan semata-mata untuk menguntungkan komunitas Islam saja. Sedangkan Universalisme Islam, secara teologis dapat dilacak dari perkataan al-Islam itu sendiri, yang berarti sikap pasrah kepada Tuhan. Dengan pengertian tersebut, dalam pikiran Nurcholish Madjid, semua agama yang benar pasti bersifat al-Islam karena mengajarkan kepasrahan kepada Tuhan. Tafsir al-Islam seperti ini akan bermuara pada konsep kesatuan kenabian (the Unity of Propecy) dan kesatuan kemanusiaan (the Unity of Humanity). Kedua konsep tersebut merupakan kelanjutan dari konsep ke-Maha Esa-an Tuhan (the Unity of God / Tauhid). Semua konsep kesatuan ini menjadikan Islam bersifat kosmopolitdan menjadi rahmat seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin), dan bukan hanya bagi umat Islam semata. Posisi semacam ini mengharuskan Islam menjadi penengah (al-Wasith), dan saksi (Syuhada) di antara semua manusia.[xxxix]

Di samping itu, inklusifisme merupakan pemikiran yang memberikan formulasi bahwa Islam merupakan agama terbuka. Sebagai agama terbuka, Islam menolak eksklusifisme dan absolutisme dan memberikan apresiasi tinggi terhadap pluralisme. Di dalam kerangka ini, umat Islam harus menjadi golongan terbuka, yang bisa tampil dengan rasa percaya diri dan bersikap ngemong terhadap golongan lain. Sedangkan penolakan terhadap absolutisme mengandung makna bahwa Islam memberikan tempat yang tinggi terhadap ide pertumbuhan dan perkembangan, yakni tentang etos gerak yang dinamis dalam ajaran Islam.[xl]

Apa yang hendak disampaikan oleh Nurcholish Madjid dengan teologi inklusif ini adalah bahwa Islam merupakan satu sistem yang memberikan kepedulian terhadap semua orang; termasuk bagi mereka yang bukan muslim. Di sinilah sebenarnya titik temu antara teologi inklusif dengan pluralisme. Dengan berpijak pada pemikiran (teologi) Islam inklusif, maka seseorang akan merasa nyaman dengan pluralisme.[xli]

Kenyataan objektif Indonesia memperlihatkan bahwa Indonesia merupakan bangsa yang tingkat heterogenitasnya tinggi dalam berbagai dimensi, suku, bahasa, adat istiadat, bahkan agama. Dengan demikian, langkah melaksanakan ajaran Islam di Indonesia harus memperhitungkan kondisi sosial budaya yang ciri utamanya adalah pertumbuhan, perkembangan dan kemajemukan. Dengan kata lain, memperlihatkan konteks di mana ajaran Islam yang bersifat universal itu hendak dilaksanakan, maka diperlukan satu interpretasi yang bersifat konstektual terhadap ajaran tersebut.

Melalui Yayasan Paramadina yang didirikan bersama teman-temannya, Nurcholish Madjid bergerak dalam kajian-kajian yang mengarah kepada gerakan intelektual muslim Indonesia. Melalui Yayasan Paramadina, beliau juga berhasil menarik kalangan kelas menengah dan elit masyarakat dari pejabat pemerintah, pengusaha, budayawan, artis, pemuda, mahasiswa dan beragam kaum professional lain untuk mengikuti berbagai kegiatan pengkajian Islam dan Kemasyarakatan.

Pada saat Indonesia menggejolak seputar modernisasi, westernisasi dan sekularisme, termasuk di kalangan umat Islam sendiri, Nurcholish Madjid dengan sangat berani mengemukakan pandangan dan pemikirannya seputar persoalan tersebut yang tentu saja dikaitkan dengan ajaran Islam. Ketika tidak sedikit tokoh umat Islam yang menolak modernisasi atas dasar pijakan teologis, Nurcholish Madjid dengan pijakan yang sama tetapi melalui interpretasi yang berbeda, mengemukakan gagasan dan pemikiran yang berbeda dan ketika itu merupakan gagasan kontroversial.

Menurut Nurcholish Madjid, modernisasi harus dibedakan dari westernisasi. Modernisasi bagi Nurcholish Madjid, lebih identik dengan rasionalisasi dalam arti bahwa modernisasi merupakan satu proses menghilangkan pola pikir yang tidak rasionalistik digantikan dengan pola baru yang lebih rasionalistik.[xlii] Oleh karena itu, bagi Nurcholish Madjid modernisasi merupakan suatu keharusan yang mutlak. Modernisasi berarti bekerja dan berfikir sesuai dengan aturan hukum alam. Menjadi modern berarti mengembangkan kemampuan berfikir secara ilmiah, bersikap dinamis dan progresif dalam mendekati kebenaran-kebenaran universal.[xliii]

Sedangkan sekularisasi adalah proses sosiologis, sekularisasi bukanlah upaya “memisahkan” duniawi dan ukhrawi, melainkan sebagai sarana bagi umat Islam untuk membedakan di antara keduanya. Bahkan Nurcholish Madjid memasukkan dimensi baru ke dalam konsep sekularisasi, yaitu dimensi tauhid. Dalam pandangan Nurcholish Madjid, sekularisasi dalam perspektif sosiologis merupakan konsekuensi dari tauhid. Tauhid itu sendiri menghendaki pengarahan setiap kegiatan hidup untuk Tuhan dalam upaya mencari ridha-Nya, yang justru merupakan sakralisasi kegiatan manusia. Dengan demikian, sakralisasi mengandung makna pengalihan sakralisasi dari suatu obyek alam ciptaan (makhluk) menuju Tuhan Yang Maha Esa.[xliv]

Gagasan sekularisasi Nurcholish Madjid yang merupakan respon terhadap fenomena sosial politik yang berkembang ketika itu (pada awal rezim orde baru) merupakan implementasi gagasan dan pemikiran Nurcholish Madjid terhadap Islam sebagai agama open dan menganjurkan idea of progress. Pada saat yang sama merupakan jawaban Nurcholish Madjid terhadap ajakan untuk senantiasa berani melakukan ijtihad, termasuk dalam menghadapi dan merespon persoalan-persoalan Indonesia kontemporer.[xlv]

Kendati mendatangkan sikap kontroversial di kalangan umat Islam, gagasan sekularisasi Nurcholish Madjid banyak mendatangkan manfaat dan keuntungan bagi mereka. Internal, Nurcholis Madjid berhasil melepaskan umat Islam dari kemandegan berijtihad. Nurcholish Madjid mencoba membangunkan umat Islam untuk segera menyadari adanya situasi dan kondisi sosial politik baru di mana umat Islam harus memberikan respon dan terlibat di dalamnya. Eksternal, Nurcholish Madjid mencoba mengatasi persoalan kekurang beruntungan kehidupan sosial politik umat Islam di dalam rezim yang baru lahir itu. Dengan kata lain, dengan gagasannya, Nurcholish Madjid mencoba mengangkat posisi umat Islam yang marginalizedke dalam posisi yang cukup diperhitungkan di dalam sebuah sistem politik yang kala itu didominasi oleh kalangan bukan Islam (santri).

E. Akhir Hayat Nurcholish Madjid

Sejak 19 Juli 2004, ketika Nurcholish Madjid meninggalkan tanah air, untuk menjalani transplantasi hati di Taiping Hospital, di Guandong, China; harap-harap cemas selalu menyelimuti sahabat-sahabatnya. Penyakit hepatitis C yang dideritanya sejak 20 tahun lalu, telah menjadi keganasan. Transplantasi merupakan satu-satunya harapan Nurcholish Madjid. Namun Tuhan menentukan lain.[xlvi]

Tanggal 23 Juli 2004, Nurcholish Madjid menjalani operasi transplantasi. Semula dikabarkan operasinya sukses, sebab tidak lebih dari seminggu, Nurcholish Madjid telah dipindahkan ke Singapura.[xlvii] Sejak Nurcholish Madjid operasi lever di China, dirawat di rumah sakit Singapura, sampai perawatan intensif di rumah sakit Pondok Indah, Jakarta, teman-temannya berdatangan memberikan do’a dan dukungan moril.[xlviii]

Senin, 29 Agustus 2005, bertepatan dengan 24 Rajab 1426, pukul 14.05 WIB, Nurcholish Madjid yang biasa dipanggil Cak Nur meninggal dunia dalam usia 66 tahun (17 Maret 1939-29 Agustus 2005). Nurcholish Madjid meninggalkan seorang istri Omi Komariah dan dua orang anak, Nadia Madjid dan Ahmad Mikail.[xlix]




[i] Nurcholish Madjid, Islam Agama Kemanusiaan Membangun Tradisi dan Visi Baru Islam Indonesia (Jakarta : Paramadina, 1995), hlm. 224.

[ii] Greg Barton, Gagasan Islam Liberal di Indonesia, Pemikiran Neo-Modernisme Nurcholish Madjid, Djohan Effendi, Ahmad Wahid, dan Abdurrahman Wahid, terj., Nanang Tahqiq (Jakarta : Paramadina, 1999), hlm. 74.

[iii] Ibid., hlm. 72.

[iv] Ibid.

[v] Siti Nadroh, Wacana Keagamaan dan Politik Nurcholish Madjid (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999), hlm. 21.

[vi] Greg Barton, Gagasan Islam….., hlm. 75.

[vii] Santri yang masuk di pesantren Gontor selama enam bulan wajib bercakap-cakap menggunakan Bahasa Arab atau bahasa asing lainnya. Baru ketika duduk di kelas dua, seorang santri mulai diperbolehkan untuk belajar nahwu danSarraf. Demikian juga di kelas tiga, empat, lima dan enam.

[viii] Nur Khalik Ridwan, Pluralisme Borjuis: Kritik atas Nalar Pluralisme Cak Nur. (Yogyakarta: Galang press, 2002), hlm. 51.

[ix] Kurikulum Gontor ditempuh untuk jangka waktu 6 tahun dengan tiga tahun yang terakhir mempelajari metode-metode pengajaran. Maka sangat lazim bahwa alumni Gontor masih menetap di pesantren paling tidak untuk satu tahun lagi mengajar. Adapun kelangsungan ekonomi para guru di pesantren ini sepenuhnya bergantung kepada pesantren, bahwa guru-guru mendapat jatah makan dan rumah pondokan, tidak lebih, Greg Barton, hlm. 36.

[x] Malik dan Ibrahim, Zaman Baru Islam, hlm. 130. Ijazah Gontor waktu itu secara resmi tidak diakui oleh pemerintah Indonesia. Periksa Greg Barton, Gagasan Islam, hlm. 77.

[xi] Kemampuan berbahasa Asing Cak Nur, bukan hanya berbahasa Arab, tetapi ia juga fasih dalam berbahasa Inggris, Prancis dan fasih pula dalam berbahasa Persia. Untuk kursus Bahasa Prancis, Cak Nur kursus di Alliance Francaise yang selesai pada tahun 1962.

[xii] Komaruddin Hidayat, “Kata Pengantar”, dalam Nurcholish Madjid, Islam Agama Kemanusiaan; Membangun Makna dan Relevansi Islam dalam Sejarah (Jakarta: Paramadina, 1995), hlm. vii.

[xiii] Greg Barton, Gagasan Islam…, hlm. 78.

[xiv] Di Timur Tengah, tepatnya di Irak, Cak Nur bertemu dengan Abdurrahman Wahid, yang waktu itu kuliah di Baghdad University, setelah mrotol dari al-Azhar yang dinilai oleh Gus Dur sangat tradisional dan konservatif, dan sejak itu keduanya sedemikian akrab dan sama-sama memiliki tendensi pemikiran yang liberal neo-modernis.

[xv] Lawatan ke Amerika Serikat Nurcholish Madjid terjadi karena diundang USIS (United State of Islamic Student). Di AS, Cak Nur belajar lebih banyak tentang gagasan-gagasan Barat seperti Liberalisme, sekularisme dan demokrasi, sehingga sejak itu Cak Nur mengalami perubahan dan perkembangan pemikiran. Periksa Nafis dan Rifki, peny., Kesaksian Intelektual, hlm. 86-87.

[xvi] Yang dimaksud dengan Islam Politik adalah upaya penyaluran nilai-nilai Islam melalui pendekatan, aspirasi dan representasi partai politik Islam, yang waktu itu sedemikian kental—untuk konteks Indonesia—disuarakan oleh eks tokoh-tokoh Masyumi semisal M. Natsir. Visi ini acapkali diidentifikasi sebagai Islam struktural yang—dalam perspektif para ahli—dikontraskan dengan pendekatan kultural. Untuk kasus Indonesia, gerakan struktural diwakili oleh Masyumi, Parmusi (pada masa Orde lama dan awal Orde Baru), gerakan Islam kontemporer semisal Front Pembela Islam, Laskar Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dan partai-partai politik Islam (pada zaman Reformasi). Sedangkan gerakan kultural acapkali diidentifikasi sebagai gerakan yang ditempuh oleh NU dengan tokoh kentalnya KH. Abdurrahman Wahid dan pemikiran Nurcholish Madjid.

[xvii] Siti Nadroh, Wacana Keagamaan.., hlm. 37.

[xviii] Di Yayasan inilah Cak Nur terlibat intensif berdiskusi dengan Djohan Effendi, M. Dawam Rahardjo, Syu’bah Asa dan Abdurrahman Wahid. Ketika itu pula, bersama-sama kawankawannya tersebut Cak Nur menerbitkan majalah Islam yang sedemikian provokatif dalam menyebarkan gagasan pembaruan yakni Mimbar Jakarta. Tulisan-tulisannya di majalah ini menjadikannya dikritisi oleh orang-orang yang tidak sepaham dengannya. Periksa, Greg Barton, Gagasan Islam, hlm. 83-84.

[xix] Ibid., hlm. 36.

[xx] Seperti sikap disiplin, kejujuran, keuletan, kreatif dan persiapan (Al- I’dal Wal Isti’dad), ketegasan dalam bertindak, lihat Greg Barton, Gagasan Islam Liberal…,hlm. 65.

[xxi] Siti Nadiroh, Wacana Keagamaan…, hlm. 26.

[xxii] Sufyanto, Masyarakat Tamaddun: Kritik Hermeneutik Masyarakat Madani Nurcholish Madjid (Yogyakarta: LP2IF dan Pstaka Pelajar Offset, 2001), hlm. 63.

[xxiii] Nurcholish Madjid, Biografi dalam Surat-surat Politik Nurcholish Madjid-Muhamad Roem, (Jakarta: Djambatan, 2004), hlm. 211.

[xxiv] Dawam Rahardjo, Islam dan Modernisasi: Catatan Atas Paham Sekularisasi Nurcholish Madjid, Islam Kemodernan dan Keindonesiaan, (Bandung : Mizan, 1987), hlm. 18-19.

[xxv] Sufyanto, Masyarakat Tamaddun…, hlm. 66.

[xxvi] Ahmad A. Sofyan dan Roychan Madjid, Gagasan Cak Nur tentang Negara dan Islam (Yogyakarta: Titian Ilahi Press, 2003), hlm. 73

[xxvii] Ibid., hlm. 65.

[xxviii] Nama Paramadina menurut Cak Nur, berasal dari Parama (paramount) artinya Unggul atau ekselen, sedangkan dina maksudnya adalah din al-Islam, sehingga makna filosofi nama yayasan tersebut adalah bahwa Islam merupakan agama yang unggul dan keunggulannya harus bias dirasakan oleh bangsa Indonesia sebagai pembawa rahmat. Makna lain dari paramadina adalah para yang berarti pusat dan madina menunjuk kepada model peradaban modern dan Islami yang telah dirintis oleh Rasulullah Muhammad di kota Madinah, yang asalnya bernama Yathrib. Peralihan nama tersebut secara sosiologis filosofis memiliki konsep yang sangat visioner dan modern sehingga sangat memukau dan menjadi model bagi Cak Nur. Periksa Nafis, Kesaksian Intelektual, 224.

[xxix] Nurcholish Madjid, ed., Khazanah Intelektual Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984)

[xxx] Nurcholish Madjid, Islam Kemodernan dan Keindonesiaan, (Bandung: Mizan, 1987).

[xxxi] Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban: Sebuah Telaah Kritis tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan dan Kemodernan, (Jakarta: Paramadina, 1992).

[xxxii] Seperti dalam Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah, di mana Cak Nur memberikan kontribusi 17 buah entry, “Pesantren dan Tasawuf “ dalam buku suntingan M. Dawam Rahardjo, Pesantren dan pembaharuan (Jakarta: LP3ES, 1983). “Pengaruh Kisah Israilliyat dan orientalisme terhadap Islam” dalam Abdurrahman Wahid, et.al., Kontroversi Pemikiran Islam di Indonesia, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1991); “Akhlak dan Iman” dalam Adi Badjuri, ed., Pelita Hati (Jakarta: Obor, 1989), “al-Quds”, dalam Wahyuni Nafis, ed., Rekonstruksi dan Renungan Religius Islam. (Jakarta: Paramadina, 1996); “Aktualisasi Ajaran Ahlussunnah wal Jamaah”, dalam M. Dawam Rahardjo, Islam Indonesia Menatap Masa Depan. (Jakarta: P3M., 1989).

[xxxiii] Misalnya “Tasawuf sebagai Inti Keberagamaan” dalam Pesantren No. 3/Vol. II/1985, dan lain-lain.

[xxxiv] Seperti “The Issue of Modernization among Muslims in Indonesia: From a Participant’s Point of View”, Gloria Davies, ed., What is Modern Indonesian Culture? (Athens, Ohio: University of Ohio Southeast Asia Studies, 1979); “Islam in Indonesia: Challenges and Opportunies”, Cyriac K. Pullapilly, ed., Islam in The Contemporary World (Notre Dame, Indiana: Cross Roads Books, 1980).

[xxxv] http://id.wikipedia.org/wiki/Nurcholish_Madjid

[xxxvi] http://paramadina.wordpress.com/2007/02/01/menimbang-nurcholish-madjid/

[xxxvii] Ihsan Fauzi, “Pemikiran Islam Indonesia Dekade 1980-an”, Prisma, 3 Maret 1991.

[xxxviii] Ahmad A. Sofyan dan Roychan Madjid, Gagasan Cak Nur, hlm. 83-84.

[xxxix] Nurcholish Madjid, Apa Arti Kemenangan Islam, dikutip oleh Syaifi Anwar yang dikutip kembali oleh Ahmad Sofyan dan Roychan Madjid, Ibid., hlm. 105-106.

[xl] Ahmad Sofyan dan Roychan Madjid, Gagasan Cak Nur, hlm.106.

[xli] Ibid., hlm. 107.

[xlii] Nurcholish Madjid, Modernisasi dan Rasionalisasi (Bandung: Mimbar, 1968), hlm. 5.

[xliii] Ibid., hlm. 95-96.

[xliv] Nurcholish Madjid, “Sekitar Usaha Membangkitkan Etos Intelektualisme Islam Indonesia”, dalam Endang Syaefuddin Anhsari., ed., 70 tahun Prof. H.M Rasyidi (Jakarta: Pelita, 1985), hlm. 216.

[xlv] Azyumardi Azra, Pergolakan Politik: dari Fundamentalisme, Modernisme hingga Postmodernisme, (Jakarta: Paramadina, 1986), hlm. 26.

[xlvi] Sulastomo, “Mengantar Cak Nur”, Pelita, Selasa, 30 Agustus 2005.

[xlvii] Ibid

[xlviii] Komaruddin Hidayat, “Hari-hari Terakhir Cak Nur”, Kompas, Selasa, 30 Agustus 2005.

[xlix] Menurut istri Nurcholish Madjid, Omi Komariah, Nurcholish Madjid sempat meminta Nadia membimbingya membacakan surat al-Fatihah dan al-Ikhlas, karena kondisinya yang lemah. “Papa melafazkannya dengan baik sampai selesai, setelah itu Papa sangat tenang” tutur Nadia. Baca: “Presiden: Cak Nur Kontributor Pencerahan Bangsa”, Kompas, Selasa, 30 Agustus 2005. Baca juga “Selamat Jalan Guru Bangsa”, Kompas, Selasa 30 Agustus 2005.

Kirim Komentar